Belajar menafsirkan Kitab Suci

2019-10-22 15:29:59

Belajar menafsirkan Kitab Suci

 

Bulan September ditetapkan oleh KWI sebagai Bulan Kitab Suci Nasional. Kita diingatkan untuk mau mengambil, membuka, membaca, merenungkan dan men-sharing­-kan pengalaman berdasarkan ayat-ayat dalam Alkitab. Maka pada kesempatan kali ini, kita mencoba menampilkan beberapa metode dalam belajar menafsirkan Kitab Suci sesuai dengan ajaran Gereja.

Salah satu masalah yang sangat mengasyikkan dan menantang dalam studi Alkitab masa kini adalah interpretasi atau hermeneutika. Hermeneutika tidak hanya menyita perhatian para ahli saja, melainkan juga menimbulkan sangat banyak kebingungan bagi publik pada umumnya. Mereka mencoba menjawab: Apa makna sesungguhnya dari Alkitab? Di antara begitu banyak penafsiran yang saling bertentangan, mana yang benar? Aliran interpretasi mana atau ahli mana yang harus diikuti? Kita hendaknya ingat bahwa Alkitab, sebagai suatu karya sastra, adalah suatu bentuk komunikasi yang disusun berdasarkan tiga unsur hakiki: pengirim atau pengarang; pesan atau teks, dan penerima atau pembaca.

Teks Alkitab yang tetap tinggal di dalam komunitas umat yang dituju, menuntut sangat sedikit interpretasi. Kebanyakan pembaca termasuk dalam dunia makna yang sama seperti pengarangnya. Namun jika pesan alkitabiah tertentu dibawa ke dunia dengan makna yang lain, usaha ekstensif untuk interpretasi menjadi suatu keharusan. Tidak dapat dihindari, akibatnya adalah ada pemahaman yang berbeda, tergantung pada apakah perhatian besar interpretasi pertama-tama dirahkan pada pengirim, pesan, atau penerima/pembaca.


Hermeneutika masa kini

            Ada beberapa perkembangan dalam dunia tafsir, mulai dari abad awal hingga abad modern. Ada yang melihat dari bentuk sastra yang ditulis; mengali makna alegoris; menekankan sisi moral; maupun terarah pada bentuk eskatologis. Walau bentuk tafsir tersebut masih ada yang mengikuti namun sudah mulai ditinggalkan. Cara yang lebih mudah dan mulai diminati adalah mencoba menafsirkan dan membedakan antara apa yang dimaksudkan Alkitab sekarang dan apa yang dimaksudkan Alkitab dulu. Hal ini meminimalkan masalah antara pengarang dan pembaca yang memiliki dunia makna yang berbeda.

Para ahli hermeneutika masa kini, berusaha memperdamaikan dua kubu yang bertentangan. Satu pihak berpendapat bahwa makna sesungguhnya adalah yang dikehendaki oleh pengarang asli (apa yang dulu dimaksudkan oleh Alkitab). Lainnya mengatakan bahwa sekali suatu karya sastra meninggalkan tangan pengarang, karya itu mempunyai hidupnya sendiri, tidak tergantung pada maksud pengarang (apa yang sekarang dimaksudkan oleh Kitab Suci). Pendekatan hermeneutika sekarang dapat ditemukan antara dua kutub ini, usaha menjembatani jurang antara maksud pengarang dan konteks masa kini.

Tanpa menyangkal pentingnya dan keabsahan dua pendekatan ini, banyak ahli berpendapat bahwa Alkitab adalah lebih daripada karya sastra. Alkitab adalah juga tradisi yang diinspirasikan dari komunitas beriman. Maka konteks historis dan budaya dibutuhkan sehingga dapat memperlengkap penyampaian tradisi dengan setia.


Pendekatan kritik historis

Metode historis kritis” atau “kritik historis” adalah suatu pendekatan yang memanfaatkan sarana historis dalam usaha untuk merekonstruksi sejarah dan memahami dokumen-dokumen yang ditulis pada zamannya. Untuk mencapai pendekatan itu, faktor sejarah yang diulas secara kritis dan sistematis sangat diperlukan. Pendekatan tersebut berusaha memahami dan menafsirkan, tetapi tidak menilai apa yang ditemukan.

Metode ini menimbulkan kekhawatiran bagi beberapa pihak. Mereka harus siap menghadapi tantangan-tantangan baru dalam iman, karena tumbuhnya penemuan dan penafsiran yang baru. Apa yang dibanggakan sebagai “kebenaran” sekarang dipertanyakan sebagai “mitos”. Praktek-praktek yang sekarang ada dianggap tidak relevan dan kurang dasar historisnya.

Meskipun masih banyak orang menolak pendekatan kritis ini sebagai “tak beriman”, namun secara umum diterima. Tetapi, penerimaan ini tidak berarti bahwa metode historis ini sudah menjawab semua masalah interpretasi. Bagaimanapun juga, para ahli sekarang menjadi semakin yakin bahwa hal itu tidak mencukupi. Pendekatan tersebut mungkin berhasil menunjukkan masalah historis, tetapi ini tidak cukup untuk menyingkapkan masalah teologis.

Baik riset alkitabiah maupun spiritualitas alkitabiah merasa berutang kepada pendekatan historis. Metode ini menyediakan bagi umat: edisi Alkitab kritis yang jauh melampaui edisi-edisi terdahulu dalam merekonstruksi teks dan penerjemahan; memberi kejelasan mengenai kehidupan dan sejarah Israel kuno dan Gereja Perdana; menempatkan umat pada waktu itu ke dalam kancah perhatian yang lebih tajam; memungkinkan pembaca melihat mereka sebagai orang-orang yang nyata, yang keprihatinan dan impiannya dapat dipahami. Metode itu juga telah menyingkapkan kedalaman iman dan kompleksitas serta kekuatan agama dan umat yang percaya.

 

Kritik Teks

Metode lain yang berkembang adalah Kritik Teks. Metode ini memiliki fungsi ganda, antara lain: merekonstruksi kejadian dari teks alkitabiah; dan melacak penyampaian dan teks selama berabad-abad. Tujuan pertama adalah sesuatu yang tidak mungkin. Karena tulisan asli masing-masing Kitab dari Alkitab telah hilang, paling-paling yang dapat dilakukan para ahli adalah merekonstruksi teks dari manuskrip-manuskrip, yang ada. Tugas ini tidak menjamin kepastian historis karena inkonsistensi yang ada dalam bahan-bahan manuskrip. Dengan membandingkan manuskrip-manuskrip, para ahli mengembangkan apa yang disebut “Kritik Teks”. Metode ini adalah rekonstruksi hipotetis, biasanya diiringi dengan catatan kaki panjang lebar (disebut apparatus kritis) yang menyebutkan sumber manuskrip dan bagian-bagian itu maupun bacaan alternatif. Terjemahan-terjemahan modern berdasar pada kritik teks demikian.

Tujuan kedua juga didapat dengan membanding-bandingkan teks itu, tetapi dengan maksud yang berbeda. Rekonstruksi adalah gerakan ke belakang menuju suatu bacaan; sejarah penyampaian teks adalah penyelidikan ke depan untuk menemukan bacaan-bacaan varian yang memungkinkan para ahli melacak perubahan dan perkembangan yang berlangsung[1].

Karena tidak ada manuskrip yang berisikan teks asli, semua kurang lebih rusak, maka pertanyaannya bukanlah naskah mana yang dapat dipercaya, melainkan dalam cara mana naskah itu dapat dipercaya. Setiap teks merefleksikan periode sejarah dari umat tertentu dari mana teks itu berasal dan di mana tersimpan. Penyelidikan kritis teks dan perbandingan teks dengan varian-variannya menyatakan kepada kita sesuatu mengenai periode sejarah dari umat tertentu. Disiplin ilmu yang demikian khusus menuntut keahlian tidak hanya dalam bahasa-bahasa yang asli, tetapi juga dalam bahasa yang berkaitan. Hanya sedikit orang yang berkecimpung dalam penyelidikan semacam ini, maka penemuan-penemuan yang mereka dapat, hendaknya diperhatikan baik oleh penerjemah maupun penafsir. Sebelum seseorang melangkah pada salah satu tahap interpretasi, haruslah ia menyusun kembali teks seasli mungkin.


Kritik Sastra

Istilah “Kritik Sastra” dipahami paling sedikit dengan tiga cara: 1) dalam arti klasik adalah pendekatan kritis kepada studi sastra. Struktur, bentuk, dan bahasa dianalisis. Kritik demikian digunakan untuk menyelidiki bahan-bahan alkitabiah. 2) Dengan tumbuhnya kesadaran historis pada abad XIX, permasalahan historis yang dikemukakan adalah mengenai perbedaan-perbedaan sastra, dan disiplin yang disebut “Kritik Sumber”.  3) Akhir-akhir ini para ahli mempertanyakan lagi hal yang lebih berkaitan dengan sastra, hubungan antara isi, bentuk, dan filsafat bahasa.

Kritik sastra dalam arti tradisional alkitabiah sebenarnya muncul dari studi teks. Para ahli dari abad XIII menemukan pola sastra dalam kitab itu. Mereka menarik kesimpulan bahwa kitab itu disusun dari berbagai macam sumber.

  • Penjelasan bagi penyusunan Pentateukh diketahui sebagai “Hipotesis Dokumen” (empat sumber yang “diketemukan”: Yahwista, Elohista, Deuteronomis, dan Imam atau Priest);
  • Begitu pula penjelasan untuk perbedaan-perbedaan dalam tradisi Injil disebut “Hipotesis Dua Sumber” (maksudnya adalah bahwa Injil Markus dan suatu kumpulan ucapan Yesus yang disebut Q digunakan oleh Matius dan Lukas).

 

Demikianlah setelah para ahli yakin bahwa ada berbagai sumber dalam teks alkitabiah, mereka mulai bertanya mengenai asal usul dan alasan penyusunannya. Kritik sastra dengan demikian menjadi suatu disiplin historis. Dengan semua pertanyaan yang telah dijawab, Kritik Sastra juga menimbulkan pertanyaan baru yang rupanya tidak dapat dijawab. Pintu terbuka untuk suatu disiplin baru yang akan menangani pertanyaan itu.


Kritik Bentuk

Fungsi Kritik Bentuk adalah melakukan penyelidikan di balik sumber yang ditemukan oleh Kritik Sastra, untuk menemukan situasi kehidupan yang menyebabkan munculnya teks tertentu. Kritik Sastra atau Kritik Sumber mungkin tertarik pada kepengarangan, tetapi masih mengidentifikasi pengarang ini dalam bentuk tunggal. Di pihak lain, Kritik Bentuk menaruh perhatian pada latar belakang asli dalam kehidupan umat.

Kritik Bentuk menemukan latar belakang ini dengan mengidentifikasi atau menganalisis bentuk-bentuk khas dari ungkapan-ungkapan yang ditemukan dalam sastra-sastra yang ada. Supaya dapat menyelesaikan tugasnya, Kritik Bentuk pertama-tama menyelidiki struktur teks untuk mengisolasi unit-unit yang membentuknya. Unit-unit ini kemudian digolong-golongkan sesuai dengan jenis atau gaya sastra. Penggolongan ini secara langsung mengantar kepada kesimpulan mengenai latar belakang. Latar belakang tidak menunjuk pada lokasi geografis atau waktu tertentu, tetapi menunjuk pada situasi sosio-budaya yang mungkin atau tidak mungkin mencakup suatu struktur sosial atau religius tertentu. Kritik Bentuk bertujuan untuk merekonstruksi tradisi lisan di balik cerita-cerita sastra. Bentuk-bentuk dilihat sebagai sisa-sisa dari tradisi awal ini.

Kritik Bentuk menangani pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh Kritik Sastra atau Kritik Sumber: pertanyaan mengenai asal usul dan latar belakang serta alasan di balik penyusunan. Tetapi, disiplin ini juga memiliki keterbatasannya. Memang metode ini dapat mengidentifikasi bentuk-bentuk karya sastra, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana bentuk-bentuk itu menjadi bagian dari keseluruhan. Kritik Bentuk dapat memisahkan teks, tetapi tidak dapat mengumpulkannya kembali. Hal ini dikerjakan oleh Kritik Tradisi.


Kritik Tradisi

Kritik Tradisi atau Sejarah Tradisi adalah analisis sejarah yang melacak perkembangan dan pertumbuhan tradisi. Sementara Kritik Bentuk mengidentifikasi latar belakang kehidupan dari unit-unit, Kritik Tradisi mencoba untuk melukiskan apa yang terjadi dalam latar belakang itu. Metode ini tertarik pada apa yang membentuk tradisi, seperti: yang disimpan dan diteruskan, mencoba mencari jejak dan perkembangannya. Kritik Tradisi menyelidiki tradisi yang sedang disampaikan, terutama tahap lisan dari tradisi itu.

Munculnya motif-motif atau bentuk-bentuk serupa yang berulang kembali memungkinkan Kritik Tradisi. Sesudah menyingkapkan perbedaan-perbedaan, tahap berikut adalah menentukan apakah perbedaan-perbedaan itu merupakan hasil dari perkembangan atau bukan, dan kemudian membuat hipotesis mengenai penyebab perkembangan itu. Cukup sukar merekonstruksi sejarah sastra. Sewaktu orang menyelidiki tahap lisan suatu tradisi, hanya ada sedikit petunjuk yang kuat, dan para ahli harus berhati-hati supaya rekonstruksi mereka tidak terlalu jauh dari apa yang sesungguhnya dikatakan teks. Buah hasil dari Kritik Tradisi barangkali dapat lebih dihargai oleh kebanyakan orang beriman daripada penemuan-penemuan ilmu-ilmu yang lain yang diuraikan sampai sekarang.


Kritik Redaksi

Kritik Redaksi dimaksudkan untuk mempelajari bagaimana sumber-sumber tertulis digunakan oleh redaktur atau editor (penyunting) dan apa yang dikatakan oleh karya penyuntingan interpretatif ini mengenai perhatian teologis dari redaktur. Ilmu ini menyerupai Kritik Tradisi, karena keduanya bermaksud memperlihatkan bagaimana tahap-tahap perkembangan memberikan bentuk baru kepada tradisi. Namun, Kritik Redaksi lebih memperhatikan sastranya daripada tahap lisannya. Jika Kritik Tradisi terutama suatu disiplin Perjanjian Lama, Kritik Redaksi berkembang dalam hubungan dengan studi Perjanjian Baru. Pokok perhatian yang utama adalah pada bentuk sastra yang final, bentuk yang diturunkan kepada kita.

Dalam studi Injil, Kritik Redaksi memberikan sumbangannya yang besar. Dengan membanding-bandingkan episode dari satu Injil Sinoptik dengan paralelnya yang muncul dalam dua Injil yang lain, Kritik Redaksi dapat menentukan pandangan teologis dari penginjil. Dengan cara ini, mereka menyumbang kepada kita pemahaman mengenai sejarah teologis dan Kekristenan awal.


Kritik Literer yang baru (naratif)

Kritik Literer yang Baru berusaha memahami Alkitab hanya sebagai karya sastra. Masalah-masalah historis yang menghubungkan bahan dengan asal usulnya tidak diperhatikan. Bidang yang menarik perhatian kritik ini tidak sama dengan dunia masa lalu, melainkan dunia imajinatif yang diciptakan oleh karya sastra sendiri. Untuk memahami dunia ini, tidak dicari dalam arkeologi, sosiologi, atau kritik sumber, melainkan dalam bahasa dan bentuk-bentuk yang digunakan, struktur-struktur yang diciptakan, dan gerakan sastra yang berkembang dalam karya sendiri.

Meskipun suatu karya sastra memungkinkan berbagai macam salinan, ini tidak berarti bahwa analisisnya dapat dilakukan dengan cara serampangan atau dapat mempunyai arti seperti dikehendaki penafsir. Kritik sastra demikian telah mengalami tahap-tahap perkembangan. Pada mulanya, teks disamakan dengan jendela yang digunakan penafsir untuk melihat makna di baliknya. Kemudian penafsir lain melihatnya lebih sebagai cermin yang di dalamnya dapat ditemukan makna. Maknanya harus dicari dalam dirinya, tetapi tidak dengan cara untuk menyenangkan hati pembaca. Pendekatan penafsiran demikian memungkinkan kritik menemukan apa yang diartikan oleh teks, tetapi tanpa memperhatikan apa itu artinya.


Menuju pengembangan suatu cara Interpretasi

Interpretasi merupakan usaha untuk menjelaskan makna teks, yang memperhatikan pengirim, pesan, atau pendengar. Cara lain untuk memahami tiga hal ini ialah membahas mengenai tiga dunia: dunia asal teks sendiri; dunia yang dicipta oleh teks; dan dunia dari pembaca. Masing-masing dunia tidak bergantung satu sama lain. Namun, dunia teks bergantung pada dunia dari mana ia bertumbuh dari segi struktur dan dari segi makna dasariah yang dimiliki oleh struktur itu. Ini tidak berarti bahwa teks terbatas pada makna asli dan tidak dapat memunculkan sejumlah makna lain. Kritik Literer yang Baru telah menunjukkan usaha untuk mengungkapkan pesan (makna yang asli) dan menentukan teks sedemikian sehingga dapat mengkomunikasikan pesan tersebut hal ini dapat terlaksana.

Interpretasi dapat didefinisikan sebagai pertemuan dunia pembaca dan dunia teks dengan cara tertentu sehingga makna teks menyentuh pembaca. Menurut Kritik Literer Baru, dunia asal tumbuhnya teks tidak perlu memainkan peranan dalam interpretasi, terkecuali pemilihan bentuk dan semua hubungan internal yang hakiki bagi bentuk tersebut. Namun, dan ini perlu diperhatikan, Alkitab adalah karya sastra yang unik. Alkitab adalah sabda Tuhan yang diinspirasikan. Tak seorang beriman pun akan menyangkal bahwa Alkitab diwahyukan. Tetapi, apakah ciri pewahyuannya dengan salah satu cara juga tergantung pada makna aslinya? Dengan kata lain, apakah makna asli menentukan? Penyelidikan sekarang berpendapat bahwa makna asli memang menentukan dan menjelaskan kadar normatifnya dengan cara demikian.

Satu hal perlu diperhatikan, yaitu peranan yang dimainkan oleh umat beriman dalam menentukan ketepatan dan sah tidaknya berbagai makna itu. Umat adalah pembawa tradisi. Umat adalah penafsir yang kreatif. Jadi, sementara interpretasi Alkitab sebagai karya sastra dapat dilakukan oleh semua kritik, hanya umat beriman yang dapat menafsirkannya sebagai Kitab Suci yang diwahyukan, karena penggubahan tradisi berlangsung dalam umat beriman.

Interpretasi telah didefinisikan sebagai perjumpaan dunia pembaca dan dunia teks. Pembaca mengenakan suatu perspektif atau pemahaman hidup tertentu terhadap teks; teks mengungkapkan tradisi yang telah diterima umat. Makna dari tradisi tersebut dibentuk oleh pandangan pembaca dan pada gilirannya menyentuh pembaca. Dengan cara demikian tradisi memberi kesaksian kepada jati diri umat dan ia sendiri dibentuk kembali dalam proses itu.



[1] Karya Origenes yang disebut Hexapla dapat disebut sebagai usaha tertua dari kritik teks demikian.

Messages