Surat Gembala - Rm Yakin Nov 2019 "Kristus: Raja semesta alam yang menyelamatkan"

2019-11-30 04:22:57

Meski ada yang mengatakan Hari Raya Kristus Raja semesta alam merupakan penutup tahun liturgi, namun saya lebih memandangnya sebagai puncak tahun liturgi. Hari Raya ini merupakan puncak iman dan harapan kita akan Kristus yang hadir kembali sebagai Raja di akhir zaman. Raja yang bukan saja menghakimi dan memutuskan segala perkara hidup kita dengan adil, namun juga berusaha menyelamatkan kita dengan kasih-Nya yang Maharahim.

Sejarah Singkat

Perayaan ini awalnya ditetapkan oleh Paus Pius XI tahun 1925 pada setiap hari Minggu terakhir bulan Oktober, menjelang Pesta Semua Orang Kudus. Maksud utama perayaan ini sangat spiritual-pedagogis seperti terungkap melalui ensikliknya “Quas Primas”, (seperti yang pertama)[1]Beliau sengaja menantang Atheisme dan Sekularisme di zamannya dengan menampilkan Kristus sebagai yang lebih tinggi dan lebih berkuasa daripada segala kekuatan dunia.

Sejak tahun 1970 perayaan ini mengalami perubahan penekanan: Kristus lebih bercorak kosmis dan eskatologis. Oleh karena itu, penempatan tanggalnya pun berubah: bukan lagi pada hari Minggu terakhir bulan Oktober, tetapi pada hari Minggu Biasa XXXIV, menjelang Hari Minggu I Adven.

Jadi, jelas pula perayaan ini menjadi puncak sekaligus penutup tahun liturgi Gereja. Kristus adalah Alfa dan Omega, yang awal dan akhir. Kristus sebagai manusia yang pertama bangkit dari kematian, yang membuka harapan kita akan kehidupan kekal sekaligus sebagai hakim yang akan datang di akhir zaman. Kristus adalah Imam abadi dan Raja alam semesta, yang akan mempersembahkan segalanya kepada Bapa-Nya: “Kerajaan abadi dan universal yakni: Kerajaan Kebenaran dan Kehidupan; Kekudusan dan Rahmat, Keadilan, Cinta Kasih dan Kedamaian.”

 

Dasar Biblis dari perayaan Kristus raja semesta alam

Injil Tahun A (Mat 25:31-46): mewartakan kabar kedatangan Putra Manusia dengan kemuliaan untuk mengadili manusia dengan penuh kasih pada akhir zaman. Dimensi kosmis-eskatologis tampak jelas disini. Sedangkan Injil Tahun B (Yoh 18:33b-37) tentang Kristus di hadapan Pilatus: “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini.” Tampak dimensi pengalaman mistik umat beriman. Tahun C (Luk 22:35-43): bahwa Kristus yang tersalib adalah Raja bangsa Yahudi. Dimesi penderitaan Kristus sampai wafat-Nya di kayu salib menampakkan Sang Raja yang sungguh mengasihi ciptaan dan mau berkurban demi keselamatan manusia yang dikasihi-Nya.

Kristus kita Imani akan dating kembali dalam kemuliaan-Nya. “Kristus telah wafat dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup” (Rom 14:9). Kenaikan Kristus ke Surga berarti bahwa Ia sekarang dalam kodrat manusiawi-Nya ikut serta dalam kekuasaan dan wewenang Allah. Yesus Kristus adalah Tuhan: Ia mempunyai segala kuasa di Surga dan di bumi. Ia “jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan” dan Bapa “meletakkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus” (Ef 1:20-22). Kristus adalah Tuhan semesta alam (Bdk. Ef 4:10; 1 Kor 5:24.27-28) dan sejarah. Dalam dia sejarah manusia, malahan seluruh ciptaan sekali lagi “dipersatukan” di bawah satu kepala (Ef 1:10), dan secara transenden disempurnakan.

Penjelasan tentang Kristus Raja semesta alam tidak bisa dipisahkan dengan konteks akhir zaman. Akhir zaman digambarkan sebagai parousia, kedatangan Kristus kedua kalinya. Berbeda dengan tradisi apokaliptik yang menyatakan dunia baru harus diawali dengan kehancuran dunia yang lama (kiamat), tradisi parousia menyatakan Kristus yang datang kedua kalinya akan membarui dunia dan segala ciptaannya. Kedua tradisi ini tidak dapat dilepaskan dari dimensi soteriologi (keselamatan) dan eskatologis (akhir zaman), di mana manusia berharap pada Allah sumber keselamatan dan hidup abadi.

 

Pengharapan akan keselamatan dan hidup yang kekal

            Orang beriman “berharap kepada Tuhan” (Mzm 31:25). Berpuluh-puluh kali dikatakan bahwa Israel berharap pada Tuhan, Tuhanlah “pengharapan Israel” (Yer 14:8). Bersama pemazmur, orang Israel berharap pada Allah yang menyelamatkan (Yes 12:2); Allah sebagai sumber harapan untuk hari depan (Yer 31:17). Pengharapan ini memberikan perdamaian dan kepastian (Msm 46:2-3). “Orang benar merasa aman seperti singa muda” (Ams 28:1).

            Kepastian pengharapan ini lain daripada kepastian perencanaan. Kepastian pengharapan selalu berarti kepercayaan: meletakkan nasib dalam tangan Tuhan. Berbeda dengan kepastian matematis yang dapat dipikirkan dan rancang oleh manusia (Ams 16:9). Termasuk hakikat pengharapan yang belum dilihat. Oleh karena itu, harapan Yahudi yang sejati terungkap dalam pengakuan: “Aku hendak menantikan Tuhan yang menyembunyikan wajah-Nya terhadap kaum keturunan Yakub; aku hendak mengharapkan Dia” (Yes 8:17).

            Dasar pengharapan adalah kesetiaan Tuhan akan janji-janji-Nya, yang terbukti dalam masa yang lampau (Mzm 105-107). Maka itu, sang nabi berkata dengan mantap: “Aku ini akan menunggu-nunggu Tuhan, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku” (Mi 7:7).

            Pewartaan Yesus tidak mempunyai tujuan lain selain mengikutsertakan orang dalam pengharapan-Nya akan kedatangan Kerajaan Allah yang sudah begitu dekat. Yesus mengajak para pengikut-Nya untuk menantikan Kerajaan dengan penuh semangat (Mat 11:12-13), berani mengorbankan segala-galanya demi Kerajaan (Mrk 9:47): “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, dan segala yang lain akan ditambahkan bagimu” (Mat 6:33). Semuanya menyangkut sikap mencari dan menyambut, sambal rela berkorban dan melepaskan demi apa yang disambut itu. “Orang yang bertahan sampai pada kesudahannya, ia akan selamat” (Mrk 13:13).

Kerajaan Allah yang diwartakan Kristus sudah mulai bisa dicicipi melalui tindakan kita yang berani mengusahakan kehadirannya. “Sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk 17:21). Kehadiran ini menjadi sempurna pada akhir zaman, kedatangan Kristus ke-dua kali (Rm 8:12-25). Dalam tradisi Gereja, pengharapan merupakan sikap khas bagi situasi antara “pembenaran” dan “keselamatan penuh”, antara “sudah” dan “belum” (Rm.8:20-25; 5:2-5; 1Kor1:7; Gal5:5; Flp 3:20; 1Tes1:10). Maka, pengharapan memperlihatkan ketegangan antara pemberian Roh pada awal di satu pihak dan dalam kemuliaan kelak di lain pihak (1Kor 15:9).

Dalam surat Ibrani, pengharapan dihubungkan erat dengan iman (3:6). Iman dihubungkan dengan pengharapan: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (11:1). Dalam surat Petrus, pengharapan dilihat sebagai inti kesucian (3:5). Sifat eskatologis jelas tetapi rupanya tetap dimengerti dalam rangka paham Perjanjian Lama (1:3.13.21).

Sampai titik ini, pokok pengharapan dipandang sebagai kepercayaan pada kesetiaan Allah yang berhubungan dengan iman akan Kristus. Allah yang telah mengalahkan kuasa dosa dan kematian dengan membangkitkan Kristus dari antara orang mati menjadi bukti akan kesetiaan-Nya pada kita. Karya keselamatan yang telah dilaksanakan Allah dalam Kristus telah dan akan dianugerahkan pula pada kita yang sabar menangung kesesakan dan tekun dalam berdoa (Rm 12:12).

Namun, pengharapan bukan sekedar pergumulan satu pihak, manusia kepada Allah. Tetapi juga, usaha dan perjuangan Allah yang berharap kepada manusia. “Karya keselamatan hanya dapat terwujud melalui tanggapan positif dari manusia; Allah sungguh berharap pada tangan-tangan manusia yang rapuh”. Allah yang berkehendak menyelamatkan manusia tetap membutuhkan persetujuan dan kerjasama manusia. Hal ini disebabkan oleh Kasih Allah. Allah yang mengasihi manusia sehingga memberikan kebebasan kepadanya, untuk menerima ataupun menolak Kasih-Nya. Allah sungguh menghargai kebebasan manusia sebagai ungkapan kasih-Nya, meski kebebasan itu membuat manusia yang dicintai-Nya menolak dan membunuh-Nya (Misericordiae Vultus 9, wajah kerahiman[2]). Oleh sebab itu, karya keselamatan perlu ditanggapi secara positif oleh kedua-belah pihak, Allah dan manusia. Inilah pengharapan yang diungkapkan oleh St. Agustinus “Kita hanya berharap neraka kosong”.

 

 

Kesimpulan

Pengharapan akan keselamatan dan hidup kekal merupakan buah dari iman terhadap Kristus yang akan hadir di akhir zaman. Di satu pihak berarti kepercayaan akan Allah; sekaligus keinginan dan hasrat yang terdalam dari hati manusia. Maka, pengharapan berarti kepastian dan sekaligus ketidakpastian. Kepastian karena Allah mengerjakan karya keselamatan-Nya; ketidakpastian karena keselamatan belum sepenuhnya terlaksana dan masih memerlukan tanggapan positif manusia. Setiap jawaban positif terhadap tawaran Allah didasarkan pada kepercayaan. Melalui iman inilah, pengharapan menjadi berdaya; dan melalui pengharapan, iman menjadi konkret dan nyata. Pengharapan berarti bahwa – karena iman – manusia berani hidup, berani melangkah, berani membangun masa depannya, berani menjawab tawaran kasih Allah. Pengharapan adalah pengakuan terhadap hidup dan kegiatan manusia karena tahu – dalam iman – bahwa diterima oleh Allah. Pengharapan adalah bukti yang nyata dari iman.

Semoga melalui hari raya ini, kita semakin berani mengikuti pola hidup dan teladan dari Kristus “Raja” kita, menjadi imam yang menaruh belas kasih pada sesama dan setia kepada Allah (Ibr 2:17). Pribadi yang menaruh dan menghidupi pengharapan akan janji keselamatan Allah pada seluruh ciptaan.

 

 

 



[1] Sebuah ensiklik Paus Pius XI yang diterbitkan pada tanggal 11 Desember 1925. Surat ini memperkenalkan Pesta Perayaan Kristus Raja. Ensiklik ini merangkum ajaran-ajaran tentang Kristus sebagai Raja Semesat alam. Dengan membatalkan ensiklik yang terbit sebelumnya, Annum Sacrum, dari Paus Leo XIIIPaus Pius XI menjelaskan bahwa kerajaan Kristus merangkul semua umat manusia. Sebagian dari ensiklik ini secara simbolis menandakan bahwa Kristus haruslah berkuasa di dunia ini.

[2] Paus Fransiskus memaklumkan tahun Yubileum Luar biasa dengan mengeluarkan bulla kepausan yang berjudul Misericordiae Vultus (Wajah Kerahiman) pada tanggal 11 April 2015. Perayaan ini merupakan tahun suci ke-27 sepanjang sejarah, setelah Yubileum Agung tahun 2000 pada masa kepausan Yohanes Paulus II.

Messages