Bacaan Harian


Kamis biasa pekan ke-33 (H) Kamis, 21 November 2019. Rm Yakin

Kamis biasa pekan ke-33 (H)
Kamis, 21 November 2019.

Bacaan:
1Mak 2:15-29; 
Mzm 50:1-2.5-6.14-15; 
Luk 19:41-44.

Renungan Sore:

Di kapel Dominus Flevit, dekat bukit zaitun, kita bisa melihat kota Yerusalem. Di tempat inilah Tuhan Yesus menangisi dan memperingatkan penduduk Yerusalem. Kota nan besar, megah dan kuat yang akan mengalami kehancuran pada tahun 70 M oleh Titus, panglima Romawi.

Peringatan Yesus pada penduduk kota Yerusalem juga menjadi peringatan bagi kita semua. Kita diajak jangan sampai terlena dengan berbagai hal yang dapat menjauhkan bahkan memutuskan kita dari Kasih Allah. Maka tetap perlu memperhatikan hidup kita dengan tetap berpegang pada Kehendak Tuhan, sebagaimana dilakukan oleh Matatias.

Jangan sampai kita terlena dengan kenikmatan dan kenyamanan yang kita miliki. Kita tetap harus ingat akan kefanaan hidup di dunia ini. Seraya memalingkan arah, guna mempersiapkan kehidupan kita di Surga. Dengan tetap berdoa kepada Tuhan dan beramal bagi sesama.

Kontemplasi:
Bayangkanlah hal-hal yang dapat melenakan dan menjauhkan anda dari Kasih Allah.

Refleksi:
Bagaimana anda menjaga diri dari pelbagai tawaran dan godaan duniawi yang dapat memutuskan anda dari Kasih Allah?

Doa:
Ya Bapa, ajarilah kami untuk senantiasa mawas diri terhadap godaan dan tipuan yang dapat menjauhkan kami dariMu, Tuhan. Amin. 

Perutusan:
Aku akan belajar memilah pelbagai tawaran duniawi yang dapat menjatuhkanku ke dalam dosa.

Rabu biasa pekan ke-33 (M) Rabu, 20 November 2019. Rm Yakin

Rabu biasa pekan ke-33 (M)
Rabu, 20 November 2019. 

Bacaan:
2Mak 7:1.20-31; 
Mzm 17:1.5-6.8b.15;
Luk 19:11-28.

Renungan Sore:

Setiap dari kita pernah bahkan sering mendapat kesempatan. Hidup itu sendiri merupakan kesempatan untuk bertumbuh. Pelbagai kesempatan itu dilambangkan dengan mina. Satu mina itu, bukanlah jumlah yang kecil. Satu mina sama dengan seratus dinar. Seratus dinar sama dengan upah orang bekerja selama seratus hari. 

Tetapi tidak jarang, kita melewatkan kesempatan tersebut. Kegagalan mengunakan kesempatan disebabkan kurangnya komitmen dalam diri kita. Untuk itu, kita perlu mencontoh sikap dan kesetiaan ibu yang rela kehilangan ketujuh anaknya demi berpegang teguh pada imannya. Ibu tersebut memiliki integritas antara apa yang dia imani dengan apa yang dia lakukan.
  
Kita perlu menyadari anugerah kehidupan ini sebagai modal agar kita dapat semakin berkembang menjadi pribadi yang utuh. Yang dibutuhkan adalah integritas, yang nampak dalam sikap dan perilaku dalam mewujudkan apa yang kita imani dalam hidup ini.

Kontemplasi:
Bayangkanlah tujuan akhir yang anda perjuangkan dalam hidup ini.

Refleksi:
Bagaimana anda mencapai tujuan tersebut dengan mempergunakan segala kesempatan, talenta yang Tuhan berikan dengan penuh integritas?

Doa:
Ya Bapa, ajarilah kami untuk menpergunakan pelbagai kesempatan dalam hidup ini guna mencapai tujuan akhir dari hidup kami. Amin. 

Perutusan:
Aku akan menperjuangkan cita-cita kehidupan ini dengan mempergunakan pelbagai kesempatan yang diberikan Tuhan dengan penuh integritas dan komitmen.

Selasa biasa pekan ke-33 (H) Selasa, 19 November 2019. Rm Yakin

Selasa biasa pekan ke-33 (H)
Selasa, 19 November 2019. 

Bacaan:
2Mak 6:18-31; 
Mzm 4:2-3.4-5.6- 7;
Luk 19:1-10.

Renungan Sore:

Sebagaimana tema dari bacaan kemarin, perjumpaan dengan Kristus membawa penyelamatan. Demikan pula dalam bacaan Injil hari ini. Zakeus mengalami keselamatan karena Yesus menjumpainya. Perjumpaan membutuhkan inisiatif dan usaha dari kedua pihak.

Meski Zakeus yang berusaha menemui Yesus, namun Kristuslah yang melihat dan menyapa Zakeus terlebih dahulu. Hal ini menandakan bahwa usaha manusiawi selalu membutuhkan restu dari Allah. Begitupun dengan karya keselamatan Allah membutuhkan kerjama dan keterbukaan manusia dengan Allah.

Walaupun memiliki kedudukan sosial yang tinggi, Zakheus terbuka terhadap Yesus dan mau menerima Dia di rumahnya. Penerimaan ini, membuat Zakheus menerima rahmat yang mendorongnya untuk berubah. Sehingga Zakeuspun mengalami keselamatan.

Kontemplasi:
Bayangkanlah anda terbuka dan mau berusaha untuk menanggapi karya keselamatan Tuhan.

Refleksi:
Bagaimana anda menanggapi karya keselamatan Allah dalam hidup ini?

Doa:
Ya Bapa, ajarilah kami untuk menanggapi karya keselamatanMu dengan berani terbuka dan menerimaMu dalam hidup kami. Amin. 

Perutusan:
Aku akan belajar untuk terbuka dan menerima Tuhan dalam hidupku sehingga dapat menanggapi karya keselamatan Allah.

Senin biasa pekan ke-33 (H) Senin, 18 November 2019. Rm Yakin

Senin biasa pekan ke-33 (H)
Senin, 18 November 2019. 

Bacaan:
Mak 1:10-15.41-43.54-57.62-64; 
Mzm 119:53.61.134.150.155.158;
Luk 18:35-43.

Renungan Sore:

Dalam hidup ini, kita kerap melewatkan pelbagai kesempatan. Kesempatan yang merupakan rahmat dan berkat Tuhan. Hilangnya peluang bisa disebabkan dari kurangnya usaha dan perjuang kita dalam mengasah potensi dan usaha mencapai rahmat tersebut.  

Untuk itu kita bisa mencontoh pengalaman si buta dalam bacaan Injil pada hari ini. Berkat perjumpaan dengan Yesus, orang buta tersebut mengalami kesembuhan. Perjumpaan terwujud bukan hanya karena kasih Kristus yang menyembuhkan, tetapi juga perjuangan si buta untuk bertemu Kristus sehingga mengalami kesembuhan.

Si buta tidak menjadi rendah diri karena kekurangannya dalam penglihatan, tetapi dia bisa mengoptimalkan kelebihannya dalam mendengarkan. Agar kita bisa bertemu Kristus, kita diajak untuk mensyukuri potensi dan kelebihan kita. Mensyukurinya sehingga dapat mengembangkan rahmat yang telah Tuhan berikan.

Kontemplasi:
Bayangkanlah anda bertemu dengan Tuhan melalui rasa syukur atas pelbagai potensi dan kelebihan yang telah dianugerahkan.

Refleksi:
Bagaimana melalui potensi dan kelebihan yang anda syukuri, anda semakin peka terhadap kehadiran Tuhan dalam hidup yang menyembuhkan?

Doa:
Ya Bapa, ajarilah kami untuk mensyukuri kelebihan yang telah Engkau berikan, sehingga kamipun dapat semakin berjuang mengembangkan diri sesuai dengan KehendakMu. Amin. 

Perutusan:
Aku akan berfokus pada potensiku bukan pada kekuranganku, sehingga dapat semakin bersyukur dan berjuang memperkembangkan diri.

Minggu biasa ke-33 (H) Minggu, 17 November 2019. Rm Yakin

Minggu biasa ke-33 (H)
Minggu, 17 November 2019.

Bacaan: 
Mal 4:1-2a; 
Mzm 98:5-6.7-8.9a; 
2Tes 3:7-12; 
Luk 21:5-19

Renungan Sore:

Akhir zaman biasa dimaknai sebagai hari kiamat, di mana kehancuran semesta akan terjadi agar dunia baru dapat tumbuh. Tradisi tersebut dinamakan sebagai tradisi Apocaliptic. Sedangkan dalam iman Gereja, akhir zaman dinyatakan sebagai kedatangan Kristus yang kedua, Parousia. Kristus hadir untuk memberi harapan dan iman agar kita ikut serta dalam karya keselamatan Allah. 

Kita senantiasa diundang untuk mendekati hidup ini dari paradigma Parousia. Senantiasa melihat titik terang meski dalam kegelapan sekalipun. Dengan begitu kita tidak mudah menyerah, berpangku tangan bahkan mengutuki keadaan. Melainkan mau ikut ambil bagian dalam usaha perbaikan menuju hari depan yang lebih baik.

Begitupun dalam kehidupan berkeluarga, kita diajak untuk berani menemukan sisi positif dan hal baik yang ada dalam diri tiap anggota kita. Sehingga dalam kebersamaan di keluarga, kita menemukan Kristus yang hadir dalam diri tiap anggota keluarga kita. Kristus yang memberikan harapan dan iman akan masa depan keluarga yang lebih baik.

Kontemplasi:
Bayangkanlah kedatangan Kristus yang memperbarui hidup dan keluarga anda menjadi penuh syukur dan cinta.

Refleksi:
Bagaimana sisi positif tersebut menjadi secercah harapan agar dengan iman, anda berani berjuang memperbaharui keluarga bersama dengan Kristus?

Doa:
Ya Bapa, mampukanlah kami untuk berani menemukan hal baik, sisi positif yang ada pada tiap anggota keluarga kami. Amin. 

Perutusan:
Aku akan ikut ambil bagian dalam usaha pembaharuan keluargaku menjadi lebih harmonis dan mesra bersama Kristus.

Sabtu biasa pekan ke-32 (H) Sabtu, 16 November 2019. Rm Yakin

Sabtu biasa pekan ke-32 (H)
Sabtu, 16 November 2019. 

Bacaan:
Keb 18:14-16;19:6-9; 
Mzm 105:2-3.36-37.42-43; 
Luk 18:1-8.

Renungan Sore:

Semakin kita sering bertemu dan berbincang dengan seseorang, semakin pula kita merasa dekat dan mengenal orang tersebut. Hal yang sama dapat diterapkan dalam relasi kita dengan Allah. Semakin sering kita berdoa, semakin kita merasakan kedekatan dengan Allah, sehingga menghilangkan rasa takut dan canggung yang ada. Semakin kita jarang berkomunikasi denganNya, semakin malas dan enggan kita berdoa dan bersyukur. 

Yesus mengajak kita untuk senantiasa berdoa tanpa jemu. Berdoa bukan hanya karena kita memohon sesuatu, tetapi karena mau bersyukur dan semakin mengenal Allah. Hidup yang menyenangkan bukanlah hidup yang penuh permohonan dan tuntutan, melainkan hidup yang dapat disyukuri.

Agar kita dapat mensyukuri hidup ini, maka kitapun diajak untuk semakin sering berdoa. Itulah sebabnya, saya mengajak anda berdoa setiap hari menjelang tidur. Ingatlah kembali satu peristiwa yang terjadi pada hari itu yang membuat anda dapat bersyukur. Catatlah pengalaman syukur itu sebagai sebuah penyertaan Allah dalam hidupmu yang ingin memberikan pembelajaran.

Kontemplasi:
Bayangkanlah, anda berdoa untuk bersyukur dan anda dapat semakin bersyukur melalui doa-doa anda.

Refleksi:
Bayangkanlah melalui doa syukur, anda dapat semakin peka dan mampu mensyukuri rahmat Allah dalam hidupmu?

Doa:
Ya Bapa, ajarilah kami untuk berdoa sehingga semakin mensyukuri berkatMu kepada kami. Amin. 

Perutusan:
Aku akan mencatat satu peristiwa yang patut aku syukuri pada hari ini, setiap harinya.

Messages