Bacaan Harian


Pesta Bertobatnya St. Paulus, Rasul (P) Sabtu, 25 Januari 2020. Rm Yakin

Pesta Bertobatnya St. Paulus, Rasul (P)
Sabtu, 25 Januari 2020.

Bacaan: 
Kis 22:3-16/Kis 9:1-22;
Mzm 117:1.2;
Mrk 16:15-18.

Renungan Sore:

Hari ini kita merayakan pesta bertobatnya St. Paulus. Namun Paulus sendiri tidak pernah mengungkapkan bahkan mengembar/gemborkan bahwa ia bertobat. Pertobatan Paulus kita akui melalui perbuatan nyata yang ia lakukan. Maka pertobatan yang sejati bukanlah melalui kata melainkan dengan perubahan sikap yang konsisten.

Kalau kita baca dalam Kisah Para Rasul, maka akan ditemukan tiga kisah yang hampir sama terkait dengan pertobatan Paulus: KIS 9; 22 dan 26. Namun ketiga kisah tersebut memiliki tekanan yang berbeda yang mengungkapkan jalan pertobatan. KIS 9 mengisahkan proses penyembuhan Saulus oleh Ananias. KIS 22 melukiskan perubahan paradigma dari Paulus, dari penganiaya menjadi pewarta Kristus. KIS 26 menampilkan Paulus yang siap diutus.

Demikian pula yang akan kita alami pada saat menjalani proses pertobatan dalam hidup. Langkah pertama, kita perlu disembuhkan, merasakan Kasih Allah yang menerima kita kembali dengan pengampunan atas dosa; sehingga kitapun memiliki pandangan baru, yang akan merubah cara pikir dan sikap/tindakan kita; melalui perubahan itulah, kita menjadi pribadi yang siap untuk diutus.

Kontemplasi:
Bayangkanlah Allah yang menyembuhkan, mengasihi dan mengutus kita.

Refleksi:
Bagaimana anda berani merubah paradigma hidup: cara pandang dan tindak demi kemuliaan Allah dan keselamatan bersama?

Doa:
Ya Bapa, ajarlah kami untuk bertobat bukan hanya dengan kata-kata tetapi dengan perubahan sikap yang nyata dan konsisten. Amin.

Perutusan:
Aku akan mengungkapkan tobatku dengan perubahan sikap yang nyata.

PW. St. Fransiskus de Sales (P) Jumat, 24 Januari 2020. Rm Yakin

PW. St. Fransiskus de Sales (P)
Jumat, 24 Januari 2020.

Bacaan:
1Sam 24:3-21; 
Mzm 57:2.3-4.6.11;
Mrk 3:13-19.

Renungan Sore:

Hidup kita sebagai orang Katolik, pengikut Kristus disarikan dalam Injil hari ini. Kita dipanggil untuk menyertai Yesus, mewartakan kabar gembira, dan menolak segala kuasa yang jahat. Inilah inti dari panggilan hidup kita semua.

Diberikan teladan yang sangat nyata melalui pribadi Daud. Dia yang senantiasa berlindung dan mengharapkan kasih Allah. Yang mewartakan mazmur dan pujian pada Allah dan kabar gembira kepada sesama. Daud yang menolak bisikan si jahat.

Hal yang sama dilakukan oleh Fransiskus de Sales, uskup dan pujangga Gereja. Fransiskus mengikuti teladan kasih dari Kristus; “Dalam kasih selalu ada kebenaran, tetapi kebenaran tanpa kasih adalah kebenaran yang harus dipertanyakan”.  Inilah warta gembira yang senantiasa Fransiskus beritakan. Dengan Kasih inilah, ia dapat menolak kuasa kejahatan dan mempertobatkan banyak umat dari ajaran sesat.

Kitapun diajak untuk mengikuti Kehendak Allah, bukan kehendak sendiri. Mewartakan kabar gembira, bukan berita buruk dan hoax yang memecah belah, bukan mengikuti bujukan si jahat untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Kontemplasi:
Bayangkanlah anda bila berada di situasi Daud, apa yang akan anda perbuat sebagai pengikut Kristus?

Refleksi:
Bagaimana anda dapat menyertai Kristus, mewartakan Injil dan menolak kuasa setan?

Doa:
Ya Bapa, ajarlah kami untuk menjadi pengikut PuteraMu, yang tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan, tetapi tetap berpegang pada kebenaran dan KasihMu. Amin.

Perutusan:
Aku akan berpegang pada kebenaran dan Kasih Allah dalam mengikuti Kristus, mewartakan Injil dan menolak kuasa setan.

Kamis biasa pekan ke-2 (H) Rabu, 23 Januari 2020. Rm Yakin

Kamis biasa pekan ke-2 (H)
Rabu, 23 Januari 2020.

Bacaan:
1Sam 18:6-9; 19:1-7; 
Mzm 56:2-3.9-10a.10b-11.12-13;
Mrk 3:7-12.

Renungan Sore:

Orang yang tidak mau menerima kesalahan dan kekalahan diri sendiri biasanya suka berteriak menyalahkan orang lain/keadaan. Mereka tidak mau mengakui kelebihan sesamanya bahkan memiliki hasrat untuk mengeyahkannya bahkan dengan cara-cara yang culas.

Itulah yang dilakukan Saul yang sudah dikuasai oleh setan. Kuasa gelap telah membuat dia tidak dapat berpikir jernih, menyadari kekurangannya seraya menerima kelebihan Daud. Hal yang sama yang membuat setan berteriak pada saat Yesus mengusir dirinya.

Kita diajak untuk berani menerima kelebihan sesama kita dan bersuka cita karena nama Allah dapat semakin dimuliakan. Jangan sampai kita berlaku seperti setan yang suka iri dan tidak mau mengakui kelebihan dan kebaikan sesama, bahkan sengaja mau mencelakakan orang yang berbuat baik.

Kontemplasi:
Bayangkanlah anda bergembira dan bersyukur karena sesama anda dapat belajar dari anda dan menjadi pribadi yang lebih baik.

Refleksi:
Bagaimana anda dapat menjadi teladan yang baik dan benar bagi sesama, bukan malah menjadi iri dan dengki terhadap perkembangan sesama?

Doa:
Ya Bapa, ajarlah kami untuk menjadi pribadi yang rendah hati dengan mau menerima kesalahan dan kegagalan seraya bersyukur bila ada sesama kami bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Amin.

Perutusan:
Aku akan belajar menjadi pribadi yang mau menerima kelebihan dan kebenaran yang ada pada diri sesamaku.

Rabu pekan biasa ke-2 (H) Rabu, 22 Januari 2020. Rm Yakin

Rabu pekan biasa ke-2 (H)
Rabu, 22 Januari 2020.

Bacaan:
1Sam 17:32-33.37.40-51;
Mzm 144:1.2.9-10;
Mrk 3:1-6.

Renungan Sore:

Banyak hal tak mungkin terjadi dalam kehidupan kita. Mulai dari beberapa penemuan yang mengangumkan hingga sesuatu yang biasa namun sungguh menjadi mukzijat pada saat kita menyadarinya, hidup pernikahan/imamat; bahkan kehidupan kita sendiri.

Dari sisi manusiawi, kita tidak dapat menjelaskan fenomena yang ada. Tetapi dengan penyertaan Allah semua sangat mungkin terjadi. Sebagaimana Daud yang mampu mengalahkan Goliat. Kitapun diajak untuk mengimani penyelenggaraan Allah dalam hidup kita. Iman yang diikuti dengan perbuatan nyata.

Ada beberapa karakter orang dalam menanggapi mukzijat. Ada yang apatis bahkan berusaha mencegah mukzijat itu terjadi, ada yang hanya percaya namun tidak melakukan apa-apa, dan ada juga yang mengimani dengan perbuatan konkret. Yang ketiga inilah yang disebut sebagai orang yang mengimani Karya Kasih Allah yang tumbuh dan mengerakkan hidup dan dirinya.

Kontemplasi:
Bayangkanlah anda mengalami mukzijat yang membuat anda bersyukur dan menghidupi iman tersebut dengan karya nyata.

Refleksi:
Bagaimana anda mengimani pernyertaan Allah dalam hidup ini, yang mengundang anda untuk ikut serta dalam karyaNya?

Doa:
Ya Bapa, ajarlah kami untuk mengimani KaryaMu dalam hidup kami, sehingga dengan iman tersebut, kamipun boleh digerakkan untuk ikut serta di dalam. Amin.

Perutusan:
Aku akan mengimani Karya Allah dalam hidupku melalui perbuatan nyata yang aku usahakan.

Selasa pekan biasa ke-2 (H) Selasa, 21 Januari 2020. Rm Yakin

Selasa pekan biasa ke-2 (H)
Selasa, 21 Januari 2020.

Bacaan:
1Sam 16:1-13; 
Mzm 89:20.21-22.27-28;
Mrk 2:23-28.

Renungan Sore:

Saul telah ditolak oleh Tuhan. Maka Samuel diutus untuk mencari raja yang baru, yang akan memimpin umat Allah. Dari sekian banyak anak Isai, Daud lah yang terpilih untuk menggantikan Saul sebagai raja. Pandangan manusia berbeda dengan pandangan Allah. 

Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Allah melihat hingga ke hati. 
Bukan penglihatan fisik melulu yang menjadi ukuran dalam menilai segala sesuatu, tetapi lebih kepada ketulusan dan kepenuhan hati dalam menjalankannya. 

Kesempurnaan seseorang bukan terletak pada pelaksanaan hukum, melainkan pada sikap hati yang mau taat kepada Allah. Hukum dibuat untuk manusia dan bukan sebaliknya. Kita bisa semakin mengimani kasih Allah dan mengungkapkannya melalui penerapan hukum yang kita lakukan dengan kepenuhan dan keikhlasan hati.

Kontemplasi:
Bayangkanlah anda menjalankan aturan dan hukum bukan atas keterpaksaan tetapi atas dasar kasih dan kerelaan.

Refleksi:
Bagaimana melalui penerapan hukum yang anda laksanakan, anda dapat semakin mengimani kasih Allah seraya mengungkapkan kasih anda padaNya?

Doa:
Ya Bapa, ajarlah kami untuk melaksanakan hukum atas dasar kasih, sehingga kamipun boleh mengalami sukacita yang penuh Amin.

Perutusan:
Aku akan menjalankan hukum dan aturan yang ada sebagai ungkapan kasihku kepada Allah yang telah mengasihiku.

Senin biasa pekan ke-2 (H) Senin, 20 Januari 2020. Rm Yakin

Senin biasa pekan ke-2 (H)
Senin, 20 Januari 2020.

Bacaan:
1Sam 15:16-23; 
Mzm 50:8-9.16bc-17.21.23;
Mrk 2:18-22.

Renungan Sore:

Bukan persembahan ataupun matiraga yang dikehendaki Tuhan, melainkan keterpautan hati kepadaNya. Dalam keterpautan itulah kita akan menjauhkan segala laranganNya serta melakukan perintahNya, bukan atas dasar kewajiban semata, tetapi atas dasar kasih.

Pada saat kasih yang berbicara, maka tidak ada lagi keterpaksaan dalam mengamalkan kewajiban agama, yang ada hanyalah ketulusan dan totalitas. Kita akan bersukacita pada saat Allah yang telah mengasihi kita terlebih dahulu berkenan akan ungkapan kasih kita kepadaNya.

Kitapun dipanggil untuk memberikan diri dan hidup kita kepada keluarga; pasangan, anak, orang tua atas dasar kasih. Melalui pemberian kasih itulah, rasa berat, lelah, marah, dan kesedihan akan hilang, berganti dengan kerelaan dan sukacita melihat mereka yang kita cintai bergembira dan berkembang.

Kontemplasi:
Bayangkanlah anda melakukan segala sesuatu dengan dasar kasih. Kasih kepada Tuhan dan sesama yang dipercayakanNya pada kita.

Refleksi:
Bagaimana anda bergembira saat melihat pengorbanan anda membuat orang yang anda cintai berkembang dalam pelbagai keutamaan?

Doa:
Ya Bapa, ajarlah kami untuk melakukan segala sesuatu atas dasar kasih, sehingga kamipun boleh mengalami kegembiraan hati. Amin.

Perutusan:
Aku akan melaksanakan segala pelayanan yang dipercayakan Tuhan kepadaku dengan dasar kasih.

Messages