Bacaan Harian


Senin biasa pekan ke-6 (H) Senin, 17 Februari 2020. Rm Yakin

Senin biasa pekan ke-6 (H)
Senin, 17 Februari 2020.

Bacaan:
Yak 1:1-11;
Mzm 119:67.68.71.72.75.76; 
Mrk 8:11-13.

Renungan Sore:

Dalam suratnya Yakobus mengajak kita untuk berbahagia kala kita menghadapi pencobaan. Karena itu merupakan ujian bagi iman kita agar membuahkan ketekunan yang menghasilkan kebijaksanaan. Hikmat ini merupakan proses yang harus dijalankan bukan pemberian yang instant.

Kesempatan untuk memiliki hikmat ini perlulah dimohonkan dengan iman dan ketenangan. Selama kita masih berada dalam kebimbangan, kemarahan dan mudah terombang-ambing dengan suasana yang ada, maka segala yang kita pintapun akan percuma.

Agar kita dapat menemukan hikmat yang kita mohonkan, kita perlu menenangkan diri, hati dan pikiran, sehingga mampu memaknai segala tanda dan peristiwa yang ada dalam hidup kita. Bukan menjadi pribadi yang grasak-grusuk, melainkan tetap tenang dalam menghadapi segala hal.

Kontemplasi:
Bayangkanlah anda menghadapi pelbagai peristiwa kehidupan ini dengan penuh iman dan ketenangan sehingga mampu menarik makna dari pengalaman yang ada.

Refleksi:
Bagaimana anda melatih diri untuk menjadi pribadi yang tenang, penuh iman dalam menghadapi kejadian yang ada dalam hidup anda?

Doa:
Ya Bapa, ajarlah kami untuk memiliki hikmat yang berasal dari buah ketekunan dalam menghadapi dan memaknai pencobaan yang terjadi dalam hidup kami. Amin.

Perutusan:
Aku akan belajar merefleksikan pengalaman hidupku dalam terang iman.

Minggu biasa pekan ke-6 (H) Minggu, 16 Februari 2020.

Minggu biasa pekan ke-6 (H)
Minggu, 16 Februari 2020.

Bacaan:  
Sir 15:15-20; 
Mzm 119:1-2.4-5.17-18.33-34; 
1 Kor 2:6-10; 
Mat 5:17-37.

Renungan Sore:

Suatu hari saya ditanya oleh anak bina iman: "Romo, apa syarat agar kita bisa masuk Kerajaan Sorga?" Saya menjawab: "kita harus berbuat baik mengikuti hukum Cinta Kasih". Tetapi anak tersebut tidak puas dengan jawaban saya, "nggak romo, bukan itu". Saya coba jawab dengan jawaban-jawaban lain, tetapi selalu anak itu menggelengkan kepalanya. Saya menyerah dan meminta jawaban anak BIA tersebut. Jawaban anak tersebut sungguh luar biasa: "untuk masuk Sorga, kita harus mati dulu romo". Dan sungguh itulah syarat agar kita bisa masuk Sorga.

Injil hari ini berkisah tentang bagaimana memasuki Kerajaan Sorga. Agar kita bisa masuk Sorga, kita bukan saja berani mati secara fisik, tetapi juga berani mati dari ego, keangkuhan dan kepentingan pribadi. Kita diajak untuk berani hidup bagi sesama, bagi keluarga dan komunitas kita. Yohanes Paulus II berkata: "Kita sudah bisa mencicipi Sorga melalui keharmonisan, kegembiraan dan damai di keluarga/komunitas kita".

Jangan sampai kita menciptakan neraka dalam keluarga dengan saling marah, menuduh bahkan menghujat anggota keluarga kita. Maka, bagaimana kita sungguh menerapkan aturan dan hukum berlandaskan Kasih dan bukan kepentingan diri semata. Janganlah aturan keluarga kita direcoki oleh orang luar (om dan tante) yang mencoba menguasai. Tetapi hendaklah kita saling mematikan ego seraya menghidupkan Kasih dalam keluarga sebagai hukum utama.

Kontemplasi:
Bayangkanlah anda menerapkan Kasih sebagai aturan utama dalam keluarga. Kasih yang berani mematikan ego dan kepentingan diri sendiri.

Refleksi:
Bagaimana anda menciptakan Sorga dan menyingkirkan neraka dalam hidup berkeluarga dan berkomunitas anda?

Doa:
Ya Bapa, ajarlah kami untuk berani mati demi Kerajaan Sorga, dimana kasih, damai dan sukacita melingkupi kehidupan keluarga dan komunitas kami. Amin. 

Perutusan:
Aku akan menolak neraka dan berusaha menciptakan Sorga dalam hidup berkeluarga dan berkomunitas.

Sabtu biasa pekan ke-5 (H) Sabtu, 15 Februari 2020.

Sabtu biasa pekan ke-5 (H)
Sabtu, 15 Februari 2020.

Bacaan:
1 Raj 12:26-32; 13:33-34;
Mzm 106:6-7a.19-22; 
Mrk 8:1-10.

Renungan Sore:

Ratzinger pernah mengungkapkan: “Belaskasih merupakan sesuatu yang bersifat ilahi”. Pada saat kita berbelaskasih, kita tidak lagi berfokus pada diri sendiri, melainkan kita dipersiapkan untuk memberi, keluar dari ego pribadi. 

Pada saat itulah, kita diikutsertakan dalam kesatuan Allah Tritunggal. Dalam relasi kasih itu, kita hanya berusaha untuk memberi. Itulah yang dilakukan Kristus pada saat Dia memberi makan 4000 orang. Tidak ada niat atau maksud dari pemberian tersebut.

Berbeda dengan Yerobeam yang mencari keuntungan demi diri sendiri. Dengan membuat dua anak lembu emas, membangun tempat peribadatan yang baru, dan mengangkat imam-imam dari non lewi, Yerobeam telah menyesatkan banyak orang demi kokohnya takhta kerajaannya. Sehingga dia dan keluarganya dileyapkan dari muka bumi.

Kontemplasi:
Bayangkanlah anda yang digerakan oleh belas kasih sehingga mampu berbagi sebagaimana Allah yang senantiasa memberi.

Refleksi:
Bagaimana anda berani memberi diri, waktu, usaha, kekayaan, dan pikiran kepada orang-orang yang dipercayakan Tuhan kepada anda?

Doa:
Ya Bapa, ajarlah kami untuk ikut serta dalam hidup keilahian-Mu dengan berani berbagi dan memberikan diri kepada sesama. Amin.

Perutusan:
Aku akan berlatih untuk berbagi dan memberi kepada sesama.

PW. St. Sirilus dan Metodius (P) Jumat, 14 Februari 2020. Rm Yakin

PW. St. Sirilus dan Metodius (P)
Jumat, 14 Februari 2020.

Bacaan:
1 Raj 11:29-32.12:19;
Mzm 81:10-11ab.12-13.14-15; 
Mrk 7:31-37.

Renungan Sore:

Kita semua dipanggil untuk melakukan Kehendak Tuhan. Namun agar kita bisa mengikuti KehendakNya, maka kita perlu terbuka untuk mendengarkan-Nya lebih dahulu. Buah dari pendengaran yang baik adalah pewartaan yang hidup, baik melalui perkataan maupun perbuatan.

Itulah sebabnya, Yesus bukan saja menyembuhkan orang yang bisu tuli, tetapi Yesus membuka hatinya terlebih dahulu. Dengan hati yang terbuka “efata”, maka kita semua akan mampu mendengar dan mewartakan Sabda Allah. Dan dengan menjadi pelaku Sabda, kitapun akan mengalami Kasih Allah yang menyelamatkan.

Berbeda dengan Salomo yang tidak lagi terbuka terhadap Sabda Tuhan sehingga mengikuti kemauan sendiri yang mengantarnya pada perpecahan dan kebinasaan. Kita dipanggil untuk senantiasa berdoa agar terbuka dalam mendengarkan dan mewartakan Sabda Tuhan dalam kehidupan harian kita.

Kontemplasi:
Bayangkanlah, melalui doa harian, anda belajar terbuka untuk mendengarkan dan mewartakan Sabda Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Refleksi:
Bagaimana anda mengawali dan mengakhiri hari dengan doa, sehingga anda mampu mengevaluasi dan memperbaiki hidup harian anda?

Doa:
Ya Bapa, ajarlah kami untuk memiliki kebiasaan doa harian yang baik, di mana kami boleh mendengarkan dan mewartakan SabdaMu melalui perkataan dan perbuatan kami. Amin.

Perutusan:
Aku akan melatih hidup doa harianku.

Kamis biasa pekan ke-5 (H) Kamis, 13 Februari 2020. Rm Yakin

Kamis biasa pekan ke-5 (H)
Kamis, 13 Februari 2020.

Bacaan:
1 Raj 11:4-13;
Mzm 106: 3-4.35-36.37.40; 
Mrk 7:24-30.

Renungan Sore:

Orang yang beriman memiliki arah tujuan yang jelas dalam hidupnya, karena mereka tahu kepada siapa mereka berpegang. Sama seperti perempuan berkebangsaan Yunani dari Siro Fenisia, yang rela merendahkan diri dihadapan Yesus demi kesembuhan anaknya.

Kitapun diajak untuk meneladan iman dari ibu yang dipuji Yesus ini. Dengan iman yang teguh, kitapun dimampukan mengubah hal yang mustahil menjadi sesuatu yang mungkin. Karena iman akan mengantar kita untuk menemukan jawaban dari setiap masalah.

Jangan sampai kita mengikuti jejak Salomo yang imannya dikaburkan oleh istri-istrinya, sehingga tidak lagi berpegang pada Allah sebagai satu-satunya pegangan hidupnya. Tanpa pegangan yang jelas hidupnyapun mudah terombang-ambing dengan godaan sehingga mudah jatuh dalam dosa.

Kontemplasi:
Bayangkanlah Allah sebagai pegangan dalam hidup anda yang selalu memguatkan dan melindungi.

Refleksi:
Bagaimana anda menjaga dan menumbuhkan iman akan Allah yang senantiasa melindungi dan menyembuhkan anda?

Doa:
Ya Bapa, ajarlah kami untuk memiliki iman yang teguh kepadaMu sebagai sumber keselamatan kami. Amin.

Perutusan:
Aku akan belajar memiliki dan membina iman yang teguh terhadap Allah yang menyelamatkanku.

Hari Rabu biasa pekan ke-5 (H) Rabu, 12 Februari 2020. Rm Yakin

Hari Rabu biasa pekan ke-5 (H)
Rabu, 12 Februari 2020.

Bacaan:
1 Raj 10:1-10;
Mzm 37:5-6.30-31.39-40; 
Mrk 7:14-23.

Renungan Sore:

Seseorang dikatakan berhikmat dan bijaksana bukan hanya dilihat dari kekayaan yang dimilikinya, tetapi juga dari keputusan yang diambil secara masak dari dalam hati. Itulah yang nampak dalam diri Raja Salomo.

Dari hati yang baiklah keluar pelbagai perbendaharaan kata yang baik. Benarlah kata pemazmur, “Mulut orang benar menuturkan kebijaksanaan, dan lidahnya mengatakan kebenaran. Taurat Allah ada di dalam hatinya, langkah-langkahnya tidaklah goyah”.

Atas dasar inilah, Yesus mengungkapkan bahwa yang menajiskan seseorang bukanlah apa yang dia makan, melainkan apa yang dia perbuatan. Dosalah yang mengandung segala pikiran jahat, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan yang dapat menajiskan orang.

Kontemplasi:
Bayangkanlah anda secara bijak menjauhkan diri dari dosa dan memilih untuk melakukan perbuatan yang benar.

Refleksi:
Bagaimana anda berani memilih segala sesuatu yang baik dan benar, yang berkenan terhadap Kehendak Allah?

Doa:
Ya Bapa, ajarlah kami untuk menjadi orang bijak, yang menjauhkan kami dari dosa yang menajiskan dan mampu memilih yang baik dan benar sesuai dengan KehendakMu. Amin.

Perutusan:
Aku akan belajar memilih yang baik dan benar dalam hidupku.

Messages