Bacaan Harian


PW St. Teresia dari Avila (P) Selasa, 15 Oktober 2019. Rm Yakin

PW St. Teresia dari Avila (P)
Selasa, 15 Oktober 2019.  

Bacaan:
Rom 1:16-25; 
Mzm 19:2-5; 
Luk 11:37-41. 

Renungan Sore:

Tuhan menciptakan manusia baik adanya. Manusia bisa mempercantik, mempertampan dan memperkaya dirinya. Tetapi, jika pikiran dan hatinya penuh rampasan dan kejahatan, apakah masih ada artinya kecantikan, ketampanan dan kekayaan lahiriah itu? 

Mari kita syukuri kecantikan, ketampanan dan kekayaan yang bisa kita pandang, namun lebih daripada itu, mari kita mengelola materi lahiriah itu agar jangan pikiran kita sia-sia, hati menjadi gelap, tubuh menjadi cemar dan mulut penuh dusta. Kita bersihkan hidup kita dengan semangat berbagi kasih dan rezeki.

Sebagaimana St. Teresia dari Yesus (Avila), yang bukan saja memiliki kecantikan lahiriah, tetapi juga keindahan rohani. Yang membuat ia bukan sekedar mengejar hal yang lahiriah yang bersifat fana, tetapi mengarahkan hati dan budi kepada Kehendak Allah.

Semoga kitapun semakin dimampukan mengolah diri sehingga bukan saja mementingkan tampilan luar saja, tetapi pandai pula mengembangkan kedalaman iman, ketulusan hati dan kejernihan pikiran. Kedalaman yang diterima melalui hasil refleksi setiap harinya sehingga kita tidak jatuh dalam kedangkalan diri. 

Kontemplasi:
Bayangkanlah Kasih Allah yang menganugerahkan hal lahiriah yang baik, sebagai usaha dalam mengali kedalaman budi dan hati yang lebih mendalam.

Refleksi:
Bagaimana anda tidak berorientasi hanya pada hal-hal duniawi yang suatu saat akan rusak dan lenyap?

Doa:
Ya Bapa, ajarilah kami untuk bijak dalam mengolah keindahan batin kami sehingga kami dapat memperoleh budi yang arif. Amin.

Perutusan:
Aku akan mempersiapkan diri menjadi pribadi yang memiliki keselarasan antara iman, hati, pikiran, perbuatan dan perkataan.

Senin biasa pekan ke-28 (H) Senin, 14 Oktober 2019. Rm Yakin

Senin biasa pekan ke-28 (H)
Senin, 14 Oktober 2019.  

Bacaan:
Rom 1:1-7; 
Mzm 98:1-4; 
Luk 11:29-32.

Renungan Sore:

Ada pernyataan yang sangat tepat: “Jangan mencari tanda-tanda dari Tuhan, tetapi carilah Tuhan sebagai tanda utama”. Tidak jarang dari kita mencari tanda-tanda dari Tuhan dalam memutuskan sesuatu, terlebih yang menyangkut karya pelayanan. Saya mau jadi prodiakon, ketua lingk, pengurus, dll kalau saya diberi tanda oleh Tuhan.

Bila kita hanya berfokus pada tanda, maka kita akan kesulitan untuk menemukan Tuhan yang memberi tanda. Allah telah memberikan tanda keselamatanNya yang berpuncak pada diri Kristus. Bila itu belum cukup, maka kenyataan bahwa kita bisa hidup, bisa merayakan Ekaristi, bisa bersyukur, itu menjadi tanda bahwa Allah mencintai kita. 

Kita diajak untuk menemukan, menerima dan bersatu dengan Tuhan yang telah kita sambut dalam Ekaristi. Konsekuensi dari penerimaan tersebut, kita semua menjadi milik Kristus, kita diangkat menjadi rasulNya, pewarta Injil, kabar gembira.

Sebagai pewarta kita merupakan penerusan tanda keselamatan Allah kepada sesama. Sebagaimana Ratu dari Syeba menemukan Tuhan dalam diri Salomo, orang Niniwe menemukan Tuhan melalui Yunus, kitapun dipanggil untuk menjadi perpanjangan Tanda Allah bagi sesama. Sehingga sesama dapat menemukan Tuhan yang hadir dan hidup dalam diri kita.

Kontemplasi:
Bayangkanlah, dengan menerima dan bersatu dengan Tuhan, anda dipanggil untuk menjadi perpanjangan tanda keselamatan Allah bagi sesama.

Refleksi:
Bagaimana pencarian dan penemuan anda pada Tuhan mengantar anda menjadi rasul, pewarta kabar keselamatan bagi sesama? 

Doa:
Ya Bapa, ajarlah kami untuk menemukan Engkau sebagai tanda keselamatan yang pertama dan utama bagi hidup kami semua. Amin.

Perutusan:
Aku tidak akan mencari tanda-tanda dari Tuhan, tetapi mencari Tuhan sebagai sumber keselamatanku.

Minggu biasa pekan ke-28 (H) Minggu, 13 Oktober 2019. Rm Yakin

Minggu biasa pekan ke-28 (H)
Minggu, 13 Oktober 2019.

Bacaan:
2Raj 5:14-17; 
Mzm 98:1.2-3ab.3cd-4;
2Tim 2:8-13; 
Luk 17:11-19.

Renungan Sore:

Dalam tradisi Yahudi pada zaman Yesus, orang kusta adalah kaum yang dikucilkan. Mereka harus mengenakan penanda yang menunjukkan penyakit kusta mereka, yang dipercaya disebabkan oleh kutuk dari Tuhan. Selain itu, merekapun harus berteriak mengingatkan orang lain bahwa mereka najis. Mereka sungguh menjadi kaum yang terasing dan disingkirkan.

Tidak jarang dalam zaman sekarang kitapun merasa terasing atau disingkirkan oleh keluarga kita sendiri. Kita bisa melihat bagaimana ayah yang tidak mengenal istri dan anak-anaknya karena kesibukan kerja yang menyita waktu dan perhatian. Anak-anak yang merasa hidup sendiri tanpa perhatian orang tua. Ibu yang merasa tidak dihargai oleh anak dan suaminya.

Agar kita dapat mengalami kesembuhan dan penerimaan kembali, maka butuh bantuan Kristus. Doa bersama dalam keluarga menjadi solusi terbaik agar kita dapat kembali diterima dan mengenal tiap pribadi dari anggota keluarga kita. Sehingga tidak ada lagi “penderita kusta” di dalam keluarga kita. Tiap pribadi merasa disapa, dihargai dan dikasihi.

Dan setelah mengalami kesembuhan melalui doa bersama, kitapun diajak untuk mensyukurinya dengan mau berbagi dan berkorban dengan sesama. Kesembuhan tidak berhenti pada sisi fisik saja, tetapi harus menyentuh sisi rohani. Syukur menjadi salah satu indikasi bahwa kita mengalami kesembuhan yang sempurna.

Kontemplasi:
Bayangkanlah doa bersama yang kamu lakukan semakin mendekatkan setiap pribadi dalam anggota keluargamu.

Refleksi:
Bagaimana kamu memelihara habitus doa bersama dalam keluarga?

Doa:
Bapa, mampukanlah kami untuk mau menyembuhkan dan menerima anggota keluarga kami melaui doa bersama dalam keluarga. Amin.

Perutusan:
Aku akan berjuang membangun habitus doa bersama dalam keluargaku.

Sabtu biasa pekan ke-27 (H) Sabtu, 12 Oktober 2019. Rm Yakin

Sabtu biasa pekan ke-27 (H)
Sabtu, 12 Oktober  2019.

Bacaan:
Yl 3:12-21; 
Mzm 97:1-2.5-6.11-12; 
Luk 11:27-28.

Renungan Sore:

Anugerah keselamatan merupakan kegembiraan dan harapan semua manusia. Anugerah itu sudah boleh kita cicipi selama kehidupan di dunia ini dan akan mencapai kesempurnaannya pada saat kehidupan kekal di Sorga.

Pada saat kita berhasil melaksanakan Sabda Allah maka kitapun akan mengalami kegembiraan, meski sebelumnya mengalami kesulitan bahkan penindasan. Melalui keberhasilan tersebut, maka kitapun akan semakin percaya diri dan memiliki harapan untuk melaksanakan Sabda Allah yang lain-Nya.

Secara manusiawi kita akan berbahagia melihat anak-anak dari keluarga kita berhasil dengan baik dalam menempuh karir dan dalam membangun keluarga mereka. Namun, bagi Yesus kebahagiaan itu akan terlampaui oleh mereka yang berani memelihara dan melaksanakan Sabda Allah dalam hidup mereka. Sangat jelas, karena perjuangan ini menyangkut kehidupan kekal dalam Allah, bukan hanya kehidupan di dunia saat ini.

Kontemplasi:
Bayangkanlah kegembiraan dari anugerah keselamatan yang akan anda terima saat anda didapati setia menjalankan Kehendak Allah hingga akhir hayat. 

Refleksi:
Bagaimana janji keselamatan memampukan anda untuk setia dalam menjalankan Sabda Allah hingga akhir?

Doa:
Ya Bapa, ajarilah kami untuk setia menjalankan SabdaMu, sehingga kamipun boleh mengalami kegembiraan dalam menerima anugerah keselamatanMu. Amin. 

Perutusan:
Aku akan belajar untuk setia hingga akhir dalam menjalankan Sabda Allah.

Jumat biasa pekan ke-27 (H) Jumat, 11 Oktober 2019. Rm Yakin

Jumat biasa pekan ke-27 (H)
Jumat, 11 Oktober  2019.  

Bacaan:
Yl 1:13-15;2: 1-2; 
Mzm 9:2-3.6.16.8-9; 
Luk 11:15-26.

Renungan Sore:

Tidak jarang pada saat kita telah menerima sakramen tobat lalu membuat niat untuk berubah, kita jatuh kembali di dosa yang sama. Hal ini bisa membuat kita frustasi sehingga enggan atau malas menjalankan pertobatan. Oleh karena itu, jangan sampai pertobatan hanya dimaknai sebagai usaha manusiawi belaka. 

Pertobatan haruslah dimaknai sebagai karya Allah yang menebus kita sebagai manusia yang berdosa. Kita diundang untuk ikut serta dalam karya penebusan Allah tersebut. Maka yang menjadi fokus bukanlah usaha kita, namun karya Allah yang menjadi mengundang kita ambil bagian.

Untuk itu doa menjadi bagian penting yang memampukan kita untuk ikut serta dalam karya Allah tersebut. Khususnya dalam doa bersama keluarga, kita menghadirkan Allah untuk meraja dalam diri dan keluarga kita. Bila Allah sendiri yang turun tangan menjaga, melindungi dan memberkati kita, maka amanlah diri kita dari setan yang mengoda.

Kontemplasi:
Bayangkanlah dengan doa bersama keluarga, anda dimampukan untuk menangkal segala gangguan setan. 

Refleksi:
Bagaimana anda menjadikan doa bersama keluarga sebagai tameng yang menangkal godaan setan?

Doa:
Ya Bapa, ajarlah kami untuk senantiasa mengundangMu di dalam diri dan keluarga kami sehingga kami boleh menghalau pelbagai gangguan setan, melalui doa bersama dalam keluarga. Amin. 

Perutusan:
Aku akan memulai doa bersama dalam keluarga guna menolak setan yang menggangu keluarga kami.

Kamis biasa pekan ke-27 (H) Kamis, 10 Oktober 2019. Rm Yakin

Kamis biasa pekan ke-27 (H)
Kamis, 10 Oktober 2019.  

Bacaan:
Mal 3:13 - 4:2a; 
Mzm 1:1-2.3.4.6;
Luk 11:5-13.

Renungan Sore:

Terkadang dalam hidup, kita melihat hal yang bertolak belakang. Orang yang tidak bertakwa pada Allah memiliki hidup yang nyaman, sedang orang yang setia pada Kehendak Allah hidup dalam penderitaan. Tidak jarang hal ini menjadi pertanyaan tentang Allah yang adil dan berbelas kasih.

Karena itulah kita diajak untuk berdoa, meminta kepada Allah agar kasih dan keadilan-Nya senantiasa menyertai kita. Sehingga kita tidak lagi mempertentangkan antara kasih dan keadilan Allah, melainkan semakin membuat kita berani hidup dalam Roh-Nya, Roh keadilan yang penuh kasih. Roh keadilan yang membuat kita semakin bertumbuh dalam kasih Allah. 

Keadilan yang mengajak kita untuk berani mengasihi sesama sebagaimana Allah telah mengasihi kita. Keadilan yang tidak membuat kita bergembira bila ada orang yang menderita, meskipun itu disebabkan karena ketidaktakwaannya pada Tuhan. Keadilan yang mengharapkan keselamatan dan pertobatan bagi diri sendiri dan sesama. Keadilan yang tidak menghakimi tetapi yang mau mengasihi.

Kontemplasi:
Bayangkanlah anda berdoa, meminta kepada Allah agar dianugerahi rahmat Roh Kudus, Roh yang membuat kita semakin mengasihi sesama dan mengharapkan keselamatan bagi mereka.

Refleksi:
Bagaimana anda memandang keadilan dan kasih Allah sebagai satu kesatuan yang menunjukan kerahiman Allah dan tidak dapat dipertentangkan? 

Doa:
Ya Bapa, ajarilah kami untuk meminta anugerah Roh Kudus, Roh keadilan yang bukan menghakimi tetapi yang mau mengasihi. Amin. 

Perutusan:
Aku akan berdoa agar mendapat anugerah Roh Kudus, Roh kebijaksanaan yang dapat menimbang segala perkara dengan penuh kasih.

Messages