Bacaan Harian


Minggu Prapaskah V (U) Minggu, 29 Maret 2020. Rm Yakin

Minggu Prapaskah V (U)
Minggu, 29 Maret 2020.

Bacaan:
Yeh. 37:12-14; 
Mzm. 130:1-2,3-4ab,4c-6,7-8; 
Rm. 8:8-11; 
Yoh. 11:1-45.

Renungan Sore:

Selama pandemi COVID-19 ini kita merasakan kesedihan, kekhawatiran bahkan ketakutan sebagaimana dialami oleh Maria dan Marta. Mereka merasakan kesedihan karena tidak dapat bertemu Kembali dengan Lazarus yang dicintainya; mereka juga mungkin mengalami kekhawatiran terhadap kematian yang akan menghampiri dirinya. Namun Yesus tidak membiarkan mereka hidup dalam kesedihan dan ketakutan terus menerus. Dengan tegas Yesus menyatakan: “_Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi untuk menyatakan kemuliaan Allah_”.

Berkat iman kepada Kasih Allah, kitapun boleh percaya bahwa pandemi COVID-19 ini tidak akan menghancurkan iman kita, melainkan semakin menyatakan kemuliaan Allah. Melalui Perayaan Ekaristi dan Komuni batin yang dilaksanakan di rumah, *iman* kita dimurnikan; melalui doa Rosario bersama di rumah, *pengharapan* kita disatukan; melalui sumbangan yang disalurkan melalui Gereja, *kasih* dan kepedulian kita disadarkan. Justru melalui kesulitan, kita semua semakin disatukan di dalam Kasih Allah. 

Itulah sebabnya, Yesus menyatakan: “_Akulah kebangkitan dan kehidupan… setiap orang yang hidup dan percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya_”. Melalui *iman*, *harapan*, dan *kasih*, kita akan dimampukan untuk bahu-membahu dan bangkit mengusahakan kehidupan bersama yang lebih baik. Kehidupan yang mengantar kita menjadi manusia baru, manusia yang tidak lagi berorientasi pada kedagingan, melainkan kepada Roh Allah yang membangkitkan kepedulian dan Kasih. 

Kontemplasi:
Bayangkan Allah yang senantiasa membangkitkan kepedulian kasih kepada sesama melalui setiap peristiwa kehidupan kita.

Refleksi:
Bagaimana daya Cinta merubah anda menjadi manusia baru yang meninggalkan dan mati terhadap dosa dan egoisme diri?

Doa:
Ya Bapa, ajarlah kami untuk memaknai musibah ini dalam terang kasih-Mu, sehingga mampu bangkit untuk mencapai kehidupan bersama yang lebih baik. Amin.

Perutusan:
Aku akan mengimani Cinta Allah yang membangkitkanku menjadi manusia baru.

Sabtu pekan Prapaskah IV (U) Sabtu, 28 Maret 2020. Rm Yakin

Sabtu pekan Prapaskah IV (U)
Sabtu, 28 Maret 2020.

Bacaan: 
Yer 11:18-20; 
Mzm 7:2-3,9b-10.11-12; 
Yoh 7:40-53

Renungan Sore:

Dalam hidup, tidak jarang kita menemukan kesulitan yang membuat kita tidak berdaya. Permasalahan yang menempatkan diri pada posisi yang serba salah. Inilah yang dialami oleh Nabi Yeremia. Bangsa Israel yang dibelanya justru berkehendak melenyapkan dia. Untuk itulah Yeremia berseru kepada Tuhan: “Kepada-Mulah kuserahkan perkaraku”.

Dalam situasi serupa, kitapun diajak untuk menyerahkan segala perkara kepada Tuhan. Berserah bukan berarti kalah, tetapi penyerahan yang aktif, mengikuti Kehendak Tuhan. Sebagaimana permenungan yang diberikan oleh Paus Fransiskus dalam menghimpun Gereja untuk menghadapi Covid-19.

“Kita kini berada dalam perahu yang sama, terperangkap dalam badai besar. Kita mesti melihat apa yang dibuat Yesus. Meskipun bahaya, Yesus tetap diam, tidur nyaman dan mempercayakan hidup-Nya kepada Bapa. 

Kini adalah saat melihat dan memperhatikan satu sama lain.
Semoga Roh Kudus membantu kami untuk mengerti bahwa hidup kami dijalin satu sama lain. Kita diajak untuk bersolider satu sama lain. Salib-Nya menguatkan kita dan mengajak kita untuk saling menolong, membantu. Itulah kekuatan iman kita yang mengusir ketakutan dan kecemasan kita”.

Kontemplasi:
Bayangkanlah Allah yang menguatkan langkah kaki kita dalam menjalani kehidupan ini seturut Kehendak-Nya.

Refleksi:
Bagaimana anda menyerahkan hidup anda dalam tuntunan Kasih Allah yang mengajak kita semua untuk semakin bersolider dengan sesama?

Doa:
Ya Bapa, Engkaulah andalanku dalam badai kehidupan ini. Ajarlah kami untuk berani bersatu di dalam Kasih-Mu yang menghidupkan. Amin. 

Perutusan:
Di tengah masalah kehidupan yang mendera, aku akan belajar untuk semakin memperhatikan sesamaku sebagai wujud penyerahan diri kepada Kehendak Tuhan.

Jumat pekan Prapaskah IV (U) Jumat, 27 Maret 2020. Rm Yakin

Jumat pekan Prapaskah IV (U)
Jumat, 27 Maret 2020.

Bacaan: 
Keb 2:1a.12-22; 
Mzm 34:17-18.19-20.21.23; 
Yoh 7:1-2.10.25-30

Renungan Sore:

Melalui Kitab Kebijaksaan, kita menemukan dua kepribadian, orang benar dan orang fasik. Orang benar selalu terarah kepada Kehendak Allah dan mengutamakan kebaikan sejati, sedangkan orang fasik hanya berfokus pada kejatuhan orang benar. Kebenaran dari orang yang mengikuti Kehendak Allah senantiasa meresahkan hidup orang fasik. 

Itulah sebabnya, orang fasik senantiasa berusaha menjatuhkan orang benar dengan cara-cara yang tidak terpuji, bahkan dengan alasan-alasan agama dan kesucian. Inilah yang terjadi pada diri Kristus. Yesus yang mewartakan kebenaran malah dimusuhi dan hendak dibinasakan. Kita diajak untuk meneladan Kristus, melakukan kebenaran yang akan menghantar pada keselamatan dan kehidupan.

Pada saat kita masih menyimpan dendam kepada sesama, kita jatuh pada kefasikan. Kita tidak lagi berfokus pada Allah dan Kehendak-Nya, tetapi kita berfokus pada amarah dan niat buruk kepada orang tersebut. Maka dari itu, kitapun diajak untuk melepaskan diri dari kefasikan dengan berani memaafkan dan mengasihi sesama kita, sesuai dengan Kehendak Allah.

Kontemplasi:
Bayangkanlah Allah yang senantiasa menuntun dan menyelamatkan orang yang memperjuangkan kebenaran kepada kehidupan sejati.

Refleksi:
Bagaimana, dengan melepaskan dendam dan amarah, anda berhasil memfokuskan budi serta hati kepada Allah, dan bukan kepada yang lain, yang tidak anda sukai?

Doa:
Ya Bapa, ajarlah aku untuk memfokuskan pikiran dan batinku hanya kepada-Mu demi mencapai kebenaran dan kehidupan yang sejati. Amin. 

Perutusan:
Aku akan melepaskan dendam dan amarahku kepada saudara-saudaraku dan menfokuskan diri kepada Allah dan kehendak-Nya.

Kamis pekan Prapaskah IV (U) Kamis, 26 Maret 2020. Rm Yakin

Kamis pekan Prapaskah IV (U)
Kamis, 26 Maret 2020.

Bacaan:
Kel 32:7-14;
Mzm 106:19-20.21-22.23;
Yoh 5:31-47.

Renungan Sore:

Dalam bacaan pertama dikisahkan bagaimana Allah yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia-Nya, mengalami putus asa dan mau menghancurkan bangsa Israel yang degil hatinya. Allah menyalahkan Musa dengan mengatakan “Bangsamu”. Namun Musa kembali mengingatkan perjanjian dan kisah kasih Allah dengan menyatakan bahwa mereka itu adalah “umat-Mu” yang Engkau pilih.

Sejak 15 Maret kemarin Presiden Jokowi menganjurkan agar kita bekerja-belajar-beribadat di rumah. 10 hari telah berlalu, tidak sedikit keluarga yang mengeluh kepada saya melalui WA, bagaimana beratnya tinggal dirumah bersama pasangan dan anak-anak. Mulai dari “Suami yang ngikutin maunya sendiri; istri yang ngatur-ngomel-marah tidak jelas; anak yang susah disuruh belajar mengerjakan tugas, sementara orang tua kelabakan dalam mendampingi tugas sekolah, dll”.

Terkadang konflik/permasalahan yang disikapi secara bijak bisa menjadi jalan menuju pemahaman/pengertian yang lebih mendalam. Namun jangan sampai permasalahan malah membuat kita saling menyalahkan dan melempar tanggung jawab. Kita diajak untuk mengingat kembali janji perkawinan dan kisah kasih perjalanan dalam membangun keluarga, sehingga dapat menguatkan langkah kita dalam mengusahakan persatuan kasih dalam keluarga.

Tidak membawa kekerasan hati/ego kita masing-masing, tetapi berani saling menolong dan mengampuni sebagai perwujudan dari jati diri kita sebagai Putera/i Allah. Semoga melalui usaha dan pekerjaan baik, yang dibingkai dalam doa dan pengampunan, kita dapat mewujudkan kebersamaan kasih dalam keluarga.

Kontemplasi:
Bayangkanlah Allah yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia-Nya dalam menghadapi kedegilan hati kita semua.

Refleksi:
Bagaimana anda mewujudkan jati diri sebagai Putera/i Allah melalui keberanian untuk saling memperhatikan dan menolong kebutuhan tiap anggota keluarga?

Doa:
Ya Bapa, ajarlah kami untuk berani mempergunakan kesempatan tinggal bersama dirumah ini untuk semakin mengenal dan memahami tiap pribadi dari anggota keluarga kami. Amin.

Perutusan:
Aku akan berhenti menyalahkan dan melempar tanggung jawab terhadap kebutuhan anggota keluarga kami, dan berani untuk saling menolong dan mengampuni satu sama lain.

Hari Raya Kabar Suka Cita (P) Sabtu, 25 Maret 2020. Rm Yakin

Hari Raya Kabar Suka Cita (P)
Sabtu, 25 Maret 2020.

Bacaan:
Yes. 7:10-14; 8:10; 
Mzm. 40:7-8a,8b-9,10,11; 
Ibr. 10:4-10; 
Luk. 1:26-38. 

Renungan Sore:

Hari Raya Kabar Sukacita ini kita rayakan, 9 bulan sebelum Hari Raya Natal. Dalam perayaan ini kita mendengarkan kabar malaikat Gabriel kepada Sta. Perawan Maria, bahwa ia akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Berhadapan dengan warta tersebut, kita bisa melihat reaksi Bunda Maria, mulai dari terkejut, menolak, berlanjut pada penerimaan dan berbagi dalam sukacita.

Hal yang sama kita alami sekarang ini. Penyebaran pandemi Covid-19 mungkin telah membuat kita terkejut. Begitu banyak kasus dan orang yang dinyatakan positif; belum lagi dengan para korban yang meninggal. Hal ini diperparah dengan ditutupnya Gereja sehingga kita tidak bisa merayakan Ekaristi khususnya dipekan suci nanti.

Pasti banyak pertanyaan, protes, penolakan dan rasa marah saat menghadapi segala peristiwa ini. Namun kita diajak untuk belajar dari pribadi Maria yang bukan sekedar menolak dan menyangkal, tetapi perlahan menerima dan menyadari keadaan yang telah terjadi ini. Melalui penerimaan inilah kita dimampukan melihat rahmat Allah, Sang Imanuel, yang senantiasa menyertai kita.

Banyak kabar baik yang dapat kita temukan dan usahakan meski dalam musibah dan kemalangan yang terjadi. Kita dapat semakin mengenal keluarga kita, saat bekerja-belajar-beribadat di rumah; kita dapat semakin kreatif mengisi hari bersama keluarga; menemukan inovasi dalam melayani umat melalui live streaming; terlebih semakin memurnikan iman kepada Allah. 

Pada saat kita berani menerima sebuah warta dengan segala konsekuensinya, maka pelbagai macam tantangan yang ada perlahan akan menjadi batu loncatan sehingga kita berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Kita dimampukan untuk melampaui bahkan belajar dari setiap tantangan dan permasalahan yang timbul dari setiap kabar yang kita terima.

Kontemplasi:
Bayangkan Rahmat Allah yang tetap bekerja bahkan menjadi lebih nyata pada setiap permasalahan/musibah yang terjadi dalam hidup kita.

Refleksi:
Bagaimana dengan hati yang terbuka anda mengubah kabar yang buruk menjadi warta sukacita yang memperkembangkan iman, harapan dan kasih kepada sesama?

Doa:
Ya Bapa, ajarlah kami untuk mampu menerima pelbagai warta-Mu dengan hati yang terbuka dan melihatnya sebagai sarana untuk memperkembangkan diri kami. Amin.

Perutusan:
Aku akan belajar terbuka terhadap segala kabar yang aku terima sebagai kesempatan untuk memperkembangkan diri.

Selasa pekan Prapaskah IV (U) Selasa, 24 Maret 2020. Rm Yakin

Selasa pekan Prapaskah IV (U)
Selasa, 24 Maret 2020.

Bacaan:
Yeh. 47:1-9,12; 
Mzm. 46:2-3,5-6,8-9; 
Yoh. 5:1-3a.5-16.

Renungan Sore:

Air Hidup senantiasa membawa kesegaran, membersihkan noda dosa, dan membawa kehidupan. Itulah yang dilakukan Yesus kepada si lumpuh. Yesus mampu melepaskan dahaga si lumpuh akan kesembuhan, membersihkan dan mengingatkannya agar tidak berdosa lagi, dan membuat dia dapat beraktifitas sebagaimana mestinya.

Kitapun perlu menjawab undangan Yesus, "Maukah engkau sembuh?" Tawaran kasih Allah nyata melalui keberanian kita dalam mencegah penularan COVID-19. Usaha kita dalam menjaga kesehatan bersama menjadi wujud nyata dari sakramen rekonsiliasi, yang akan melepaskan kita dari paparan virus, sehingga dapat hidup sehat sebagai anak-anak Allah.

Setelahnya kitapun diundang untuk memberikan kelegaan pada tiap orang, melalui pikiran, tutur kata, tindakan dan tanggung jawab kita. Jangan sampai hati kita hanya dipenuhi dengan kekhawatiran dan ketakutan saja. Kita diajak memiliki hati yang terbuka terhadap kasih dan kebaikan. Kita diajak untuk ambil bagian dalam menjadi Air Hidup yang memberikan kelegaan pada sesama.

Kontemplasi:
Bayangkan Allah yang senantiasa mencurahkan rahmat sekalipun dalam kemalangan yang ada.

Refleksi:
Bagaimana anda ikut serta menjadi bagian dari Air Hidup kepada sesama sekitar anda?

Doa:
Ya Bapa, ajarlah kami untuk tidak berhati beku, mati dalam ketakutan saja. Namun mampukanlah kami untuk melihat dan menemukan rahmat Kasih-Mu yang nyata dalam setiap langkah kehidupan kami. Amin.

Perutusan:
Aku akan belajar untuk membawa kelegaan pada sesama sekitarku.

Messages