Bacaan Harian


Senin pekan Prapaskah IV (U) Senin, 23 Maret 2020. Rm Yakin

Senin pekan Prapaskah IV (U)
Senin, 23 Maret 2020.

Bacaan:
Yes. 65:17-21; 
Mzm. 30:2,4,5-6,11-12a,13b; 
Yoh. 4:43-54.

Renungan Sore:

Ada seorang pengamen buta yang memiliki biola tua sebagai satu-satunya harta miliknya. Biola itu sudah amat tua, catnya sudah mengelupas, gripnya sudah retak, bahkan senarnyapun sudah ada yang putus. Namun biola itu tetap dijaganya, karena hanya dengan itulah ia dapat hidup.

Suatu hari pengamen tersebut mencoba peruntungan di sebuah tempat di sekitar warung makan. Dia mulai memainkan biola tuanya. Namun setelah memainkan beberapa lagu, tak satupun pengunjung yang memberikan uang ke dalam kaleng miliknya. Dia mulai resah dan semakin berjuang memainkan biola tersebut.

Tidak jauh dari tempat itu, ada seorang yang memperhatikan pengamen buta. Orang itu menghampiri pengamen itu dan meminta si buta memberikan biolanya. Pengamen buta tersebut menolak dan sangat takut bila biola satu-satunya diambil. Namun karena orang itu mampu perlahan menyakinkan pengamen itu, maka ia pun bersedia memberikan biolanya.

Setelah berpindah tangan, biola tersebut mampu mengeluarkan instrumen yang luar biasa. Perlahan mulai banyak orang yang datang menghampiri dan memberikan banyak uang ke kaleng itu hingga penuh bahkan berlebih. Orang yang memainkan biola itu bernama Padanini, seorang komposer terkenal dari Italy.

Dalam bacaan, Allah menjanjikan langit dan bumi yang baru. Kebaruan itu bukan berarti mengantikan yang lama, sebagaimana musisi yang tidak menukar biola tua dengan yang baru. Tetapi mengunakan biola tua dengan cara yang baru atau memaknai cara pandang yang baru dalam menilai dunia dan kehidupan.

Inti perubahan terjadi pada saat pengamen itu berani menyerahkan biola itu kepada seseorang yang tidak dia kenal. Senada dengan hal tersebut, hidup kita baru berubah pada saat kita berani menyerahkan keseluruhan diri kita pada Allah. Menyerahkan kelemahan, cacad pusaka, kelebihan dan hal baik pada Allah. Biarkan Allah menyembuhkan dan menghidupkan kita dengan caraNya yang ajaib.

Kontemplasi:
Bayangkanlah diri anda sebagai pengamen yang ada dalam kisah diatas.

Refleksi:
Bagaimana anda berani menyerahkan harta yang paling berharga namun penuh dengan cacad kepada Allah untuk diperbarui?

Doa:
Bapa ajarlah kami untuk berani mempercayakan diriku yang penuh cacad cela kepadaMu. Mampukanlah kami untuk diperbarui dan mengalami kehidupan bersamaMu. Amin.

Perutusan:
Aku akan mempercayakan hidupku pada penyelenggaraan Allah.

Hari Minggu Prapaskah IV (Pink) Minggu, 22 Maret 2020. Rm Yakin

Hari Minggu Prapaskah IV (Pink)
Minggu, 22 Maret 2020.

Bacaan:
1Sam. 16:1b,6-7,10-13a; 
Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; 
Ef. 5:8-14; 
Yoh. 9:1-41.

Renungan Sore:

Hari ini adalah Minggu _Laetare_, Minggu Sukacita. Namun bagaimana kita menghayati sukacita disaat pandemi Covid-19 ini merajalela? Sesuai bacaan Injil, Yesus yang membuka mata orang buta; kitapun, berkat Kristus, diajak membuka mata hati kita sehingga dapat menarik makna dan pembelajaran melalui peristiwa ini.

Banyak umat yang mengeluh karena tidak dapat datang ke Gereja untuk merayakan Ekaristi dan menyambut Tubuh Kristus. Namun Allah tidak hanya melihat fisik semata, melainkan hati. Oleh sebab itu, kitapun bisa menyatukan hati kita dengan para imam yang merayakan Ekaristi dan menerima Komuni Batin di rumah masing-masing. Melihat pengalaman ini sebagai sarana pemurnian hati dan iman kita terhadap Allah. 

Selain itu, kita diajak untuk memperbarui cara hidup kita, mengungkapkan iman melalui ketaatan kepada pemerintah dan Gereja: “bekerja, belajar dan beribadat di rumah selama pandemi Covid-19 ini”. Berani menjadi putera-puteri terang dengan saling mengasihi dan meneguhkan melalui pelayanan dan pengampunan yang kita berikan, dimulai dari keluarga kira masing-masing. 

Kontemplasi:
Bayangkan Allah yang mengajar dan mencelikan mata batin kita melalui peristiwa ini.

Refleksi:
Bagaimana anda berani memurnikan penghayatan iman melalui ketaatan kepada anjuran pemerintah dan Gereja?

Doa:
Ya Bapa, ajarlah kami untuk berani memurnikan iman kepada-Mu, sehingga kami semakin dapat mewujudkan jati diri kami sebagai putera-puteri cahaya. Amin.

Perutusan:
Aku akan belajar taat dan memaknai segala peristiwa kehidupanku dalam terang Kasih Allah.

Sabtu pekan Prapaskah III (U) Sabtu, 21 Maret 2020. Rm Yakin

Sabtu pekan Prapaskah III (U)
Sabtu, 21 Maret 2020.

Bacaan:
Hos 6:1-6;
Mzm 51:3-4.18-19.20-21ab;
Luk 18:9-14.

Renungan Sore:

Sejak pandemi Covid-19 menyebar, tidak sedikit pribadi yang mengalami kekhawatiran akan tertular virus ini. Sebagian orang lagi mencela ketakutan dari sesamanya. Bahkan ada yang mengatakan ketakutan mereka tidak beralasan, kekhawatiran tersebut disebabnya karena kurangnya iman.

Menghadapi dua sikap tersebut, kita diajak untuk bersikap bijak. Tidak jatuh pada ketakutan yang tidak beralasan, namun juga jangan sombong dan menyepelekan wabah ini. Kita diajak untuk bersikap rendah hati: di satu sisi memohon rahmat ketenangan pada Tuhan seraya menyadari keterbatasan diri kita dengan berani memperkuat kondisi tubuh kita. Daya tahan tubuh bisa bertambah melalui asupan suplemen yang baik, dengan mengkonsumsi vitamin. 

Seraya mematuhi aturan pemerintah pusat agar bekerja/belajar/beribadat di rumah. Mengunakan kesempatan kebersamaan di rumah bersama keluarga untuk saling mengenal, menguatkan dan mengampuni satu sama lain. Belajar untuk melihat dan menemukan Allah dalam diri anggota keluarga kita. 

Allah yang mengasihi kita dengan pelbagai cara, sebagaimana anggota keluarga kita yang mencoba mencintai kita dengan cara masing-masing. Untuk itu dibutuhkan pengenalan sehingga dapat memahami bentuk cinta mereka kepada kita. Dan kitapun dapat melihat sisi positif dari mereka sebagai wujud kehadiran Allah.

Kontemplasi:
Bayangkanlah anda mengalami Kasih Allah sebagaimana anda merasakan cinta dari anggota keluarga anda.

Refleksi:
Bagaimana anda belajar melihat dan mengalami Kasih Allah yang hadir melalui perhatian dari tiap anggota keluarga anda?

Doa:
Ya Bapa, ajarlah kami untuk memiliki kerendahanhati sehingga mampu melihat dan menemukan Engkau dalam diri anggota keluarga kami. Amin.

Perutusan:
Aku akan membangun pengenalan dan pemahaman terhadap keluargaku.

Jumat pekan III Prapaskah (U) Jumat, 20 Maret 2020. Rm Yakin

Jumat pekan III Prapaskah (U)
Jumat, 20 Maret 2020.

Bacaan:
Hos. 14:2-10; 
Mzm. 81:6c-8a,8bc-9,10-11ab,14,17; Mrk. 12:28b-34.

Renungan Sore:

Kita semua mengetahui Hukum Kasih: Kasih kepada Allah dan pada sesama. Namun, bagaimana anda menerapkan itu semua dalam kehidupan sehari-hari? Jangan sampai hukum tersebut hanyalah berada dalam tataran pengetahuan dan tidak dapat diterapkan dalam kehidupan kita.

Oleh karena itu, kasih kepada Allah dan sesama haruslah dimulai dari kasih kepada diri sendiri. Karena bagaimana anda dapat mengasihi Allah yang tidak kelihatan jika tidak mengasihi sesama yang kelihatan; dan bagaimana anda dapat mengasihi sesama yang tidak anda kenal tanpa lebih dahulu mengasihi diri anda yang telah anda kenali?

Bentuk konkret dari Kasih kepada Allah, sesama dan diri sendiri nyata dalam pertobatan. Dengan kita berani bertobat, maka kita telah mengasihi diri sendiri. Rahmat pengampunan yang diterima, memampukan kita untuk mengampuni dan mengasihi sesama sehingga kitapun akan semakin berpaut kepada Allah. Marilah kita mengisi masa Prapaskah ini dengan pertobatan sebagai wujud nyata dari Kasih kepada Allah, sesama dan diri sendiri.

Bentuk lain dari pertobatan pada masa ini adalah, kita bisa mulai menjaga kondisi tubuh kita dengan mengkomsumsi vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh dan tinggal dirumah agar tidak terpapar virus Covid-19. Dengan tubuh yang sehat, maka kitapun semakin dimampukan untuk berbagi kasih kepada keluarga kita.

Kontemplasi:
Bayangkanlah Allah yang mengajak kita untuk mengasihi diri kita sebagai wujud kasih kepada sesama dan kepada Tuhan.

Refleksi:
Bagaimana melalui pertobatan, anda semakin tergerak untuk mengasihi Allah dan sesama?

Doa:
Ya Bapa, ajarlah kami untuk menjaga kondisi tubuh sehingga kami dapat melayani keluarga sebagai perwujudan kasih kepada-Mu. Amin.

Perutusan:
Aku akan mencintai Tuhan dan sesama melalui usahaku dalam menjaga kesehatanku.

HR. St. Yusuf, suami SP. Maria (P) Kamis, 19 Maret 2020. Rm Yakin

HR. St. Yusuf, suami SP. Maria (P)
Kamis, 19 Maret 2020.

Bacaan:
2Sam. 7:4-5a,12-14a,16; 
Mzm. 89:2-3,4-5,27,29; 
Rm. 4:13,16-18,22; 
Mat. 1:16,18-21,24a atau Luk. 2:41-51a.

Renungan Sore:

Yusuf terkenal sebagai orang yang tulus hati. Ketulusan Yusuf sungguh nampak dalam setiap keputusan yang dia ambil secara bijak. Alih-alih mempermalukan Maria, dia lebih memilih berkorban demi keselamatan tunangannya. Dalam tradisi Yahudi, perempuan yang kedapatan hamil tanpa ikatan dengan seorang pria akan mendapat hukum rajam. 

Jika Yusuf menceraikan dengan resmi, dia harus memberi alasan, mengapa ia menceraikan tunangannya. Jika hal ini terjadi, maka aib Maria akan terkuak. Itulah sebabnya, Yusuf sengaja mau meninggalkan Maria dengan diam-diam, agar dianggap sebagai pria yang tidak bertanggung jawab. Yusuf berani berkorban demi menjaga kehormatan Maria; selain itu, ia juga mau menerima dan merawat Maria serta bayinya; Yusufpun tidak pernah mengungkit-ungkit hal-hal yang sudah berlalu. Dari sikap inilah kita dapat menyimpulkan akan ketulusan hati Yusuf.

Kitapun dipanggil untuk meneladan keutamaan St. Yusuf. Berani berkorban dan mengambil tanggung jawab sehingga tidak merugikan sesama yang lain. Terlebih di saat ini, bagaimana kita berani menahan hasrat/keinginan untuk pergi ke luar dan sungguh-sungguh mengunakan kesempatan bekerja-belajar-beribadat di rumah. Sehingga kita tidak terserang virus Covid-19 atau tanpa sadar menularkan virus itu kepada sesama yang kurang sehat.

Kontemplasi:
Bayangkan anda melaksanakan anjuran pemerintah dengan tulus hati seperti Yusuf yang rela berkorban demi kebaikan sesama.

Refleksi:
Bagaimana anda menjaga ketulusan hati anda, khususnya dalam masa penyebaran Covid-19 sekarang ini?

Doa:
Ya Bapa, mampukanlah kami untuk berani bersikap tulus hati sebagaimana St. Yusuf yang berani menahan egonya demi keselamatan sesama. Amin.

Perutusan:
Aku akan belajar taat dan bersikap tulus hati demi kebaikan bagi banyak orang.

Rabu pekan Prapaskah III (U) Rabu, 18 Maret 2020. Rm Yakin

Rabu pekan Prapaskah III (U)
Rabu, 18 Maret 2020.

Bacaan:
Ul 4:1.5-9;
Mzm 147:12-13.15-16.19-20; Ul: 12a;
Mat 5:17-19.

Renungan Sore:

Manusia dan hukum adalah dua entitas yang tidak bisa dipisahkan, karena sebagai makhluk sosial, manusia hidup dengan manusia lain. Tiap manusia memiliki kepentingan masing-masing, hal ini akan mendorong mereka untuk saling berkompetisi dan mengalahkan antar sesamanya. Bila dibiarkan, hal ini dapat menimbulkan kekacauan. 

Hukum berfungsi untuk menciptakan keteraturan dengan mencegah atau mengatasi kekacauan di atas. Hukum diharapkan mampu menciptakan equilibrium/keseimbangan, yang dapat mengatasi pelbagai kepentingan yang saling berhadapan. Dengan kata lain, hukum menjadi penjamin tatanan hidup antar manusia.

Agar fungsi hukum dapat terwujud, maka tiap individu “dipaksa” untuk mematuhinya. Keterpaksaan ini bukan bertujuan memperbudak manusia, melainkan “membebaskan” tiap individu dari nafsu pribadinya. Setelah manusia tersebut melaksanakan hukum, barulah mereka dapat mengevaluasi dan menyempurnakan hukum tersebut. 

Inilah yang diungkapkan Kristus, bahwa ia datang bukan untuk meniadakan Taurat melainkan mengenapinya dengan Perintah Kasih. Yesus bukanlah pembangkang, melainkan ia yang menyempunakan hukum yang ada karena Dialah yang telah melaksanakan Taurat secara sempurna dan mampu mengevaluasinya.

Kontemplasi:
Bayangkanlah aturan dan hukum yang anda terima, laksanakanlah dan temukanlah tujuannya, sehingga anda dapat menyempurnakannya.

Refleksi:
Bagaimana evaluasi dan penyempurnaan hukum baru dapat dilakukan setelah anda melaksanakan hukum tersebut dengan benar?

Doa:
Ya Bapa, ajarlah kami untuk berani melaksanakan aturan dan hukum yang berlaku sebagai usaha kami dalam menemukan hakekat dan tujuan hukum tersebut. Amin.

Perutusan:
Aku akan melaksanakan aturan dan hukum yang berlaku dengan sepenuh hati.

Messages