Bacaan Harian


Senin, 29 Juni 2020 Hari Raya S. Petrus dan S. Paulus, RAS (M). Rm Soni

Senin, 29 Juni 2020  
Hari Raya S. Petrus 
dan S. Paulus, RAS (M)
Kis. 12:1-11; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7,8-9;
 2Tim. 4:6-8,17-18; 
Mat. 16:13-19.

Selamat

Peristiwa selamat kerap kali menjadi peristiwa penting dan dikenang di dalam hidup kita. Salah satu peristiwa selamat yang cukup kenang terjadi sekitar 2 tahun lalu. Saat itu, saya bersama 5 orang DPH hendak menghadiri pertemuan di Paroki Alam Sutra. saat itu saya yang menyetir. Di tengah jalan tol ketika kecepatan cukup tinggi saya mendengar ada suara aneh di mobil saya. Tidak berpikir panjang, saya mencoba menepikan mobil saya. setelah itu saya turun mengecek sekeliling mobil. Dan ternyata, ban kiri depan mobil yang saya kendarai, pecah. Seorang bapak yang ikut mengatakan, untung saya tidak sadar itu suara ban pecah, sehingga saya tidak panik. Kami semua selamat.

Petrus dan Paulus, dua tokoh Gereja yang kita rayakan hari ini, juga pernah mengalami "selamat" di dalam hidupnya. Petrus berhasil dari penjara, meskipun dia dijaga ketat oleh empat orang penjaga (Kis 12:1-11). Paulus pun mengalami peristiwa serupa. Ia dilepaskan oleh Roh Kudus ketika dipenjara bersama Silas (KIs 16:22-34). Peristiwa selamat, menjadi pengalaman dasar yang meneguhkan iman dan panggilan mereka, "sekarang aku tahu....bahwa Tuhanlah yang menyelamatkan Aku  (Kis 12:11). Mereka semakin tangguh dalam menjalankan pewartaan Injil.

Lalu?
Dengan cara apapun, kita pasti pernah mengalami beragam peristiwa selamat. Kita kenang kembali pengalaman itu pada Hari Raya st. Petrus dan Paulus. Sambil bertanya, adakah pengalaman "selamat" yang terus meneguhkan iman kita?

Salam
Sonypr

Minggu biasa pekan ke-13 (H) Minggu, 28 Juni 2020. Rm Yakin

Minggu biasa pekan ke-13 (H)
Minggu, 28 Juni 2020.

Bacaan:
2Raj 4:8-11.14-16a; 
Mzm 89:2-3.16-17.18-19; 
Rom 6:3-4.8-11; 
Mat 10:37-42.

Renungan Sore:

_Qui recipit vos, me recipit : et qui me recipit, recipit eum qui me misit_, “Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku”.

Seorang bijak menyatakan, salah satu buah dari rasa syukur adalah sukacita dan keramah-tamahan. Buah ini lahir dari iman akan Allah yang senantiasa menyertai. Keluarga yang bersyukur akan mengalami kegembiraan yang ditampakkan melalui sikap dari tiap anggotanya yang saling memperhatikan, menghibur, dan menolong satu sama lain. Bahkan sikap ini perlahan akan meluas kepada orang/lingkungan sekitarnya. Sukacita dan rasa syukur menjadi pintu bagi masuknya anugerah lain yang lebih besar bagi keluarga tersebut. 

Sebagaimana kisah keluarga di Sunem, mereka bersyukur atas anugerah Tuhan, sehingga memperlakukan pembantunya, Gehazi; dan tamunya, Elisa; secara sangat baik. Keramah-tamahan keluarga itu mengantarnya pada anugerah putera yang dinanti-nantikannya. Kita diajak untuk mengisi kehidupan ini dengan rasa syukur. Rasa syukur itu bagaikan magnet yang akan menarik energi positif, sehingga apa yang kita harapkan serta usahakan dapat berhasil. 

Seperti kita yang senang kepada anak yang suka tersenyum dan tahu berterima kasih, sehingga lebih tertarik untuk semakin memberi kepadanya. Begitupun dengan Allah, Tuhan kitapun akan lebih menyukai orang-orang yang bersukacita dan tahu bersyukur. Terlebih, kita semua bukan sekedar ciptaan-Nya melainkan anak-anak-Nya yang terkasih, yang telah ditebus melalui pengorbanan Kristus. 

Bentuk dari syukur inilah yang membuat kita semakin bergembira sehingga membuahkan keramahan pada sesama. Pada saat kita memperlakukan sesama secara ramah, kitapun menunjukkan sukacita dan rasa syukur kita akan penyelenggaraan Allah dalam hidup kita. Keramah-tamahan yang kita tampilkan, juga mengungkapkan jati diri kita sebagai anak Bapa yang dikasihi.

Kontemplasi:
Bayangkanlah Allah yang begitu mengasihi anak-anak-Nya yang tahu berterima kasih/bersyukur atas karya penyelamatan yang telah diperjuangkan-Nya.

Refleksi:
Bagaimana anda berani menunjukkan rasa syukur melalui kegembiraan dalam hidup dan keramah-tamahan pada sesama?

Doa:
Ya Bapa, ajarlah kami untuk mensyukuri Kasih dan Pengorbanan-Mu kepada kami, sehingga kami boleh menjalani hidup ini dengan sukacita yang tercermin melalui keramah-tamahan kepada sesama. Amin. 

Perutusan:
Aku akan mensyukuri hidup ini dan belajar ramah kepada sesama sekitarku.

– Rm. Antonius Yakin –

Sabtu, 27 Juni 2020 Hari Biasa Pekan XII (H). Rm Soni

Sabtu, 27 Juni 2020 
Hari Biasa Pekan XII (H)
Rat. 2:2,10-14,18-19; Mzm. 74:1-2,3-5a,5b-
7,20-21; Mat. 8:5-17.

Tidak layak

Bagaimana perasaan anda jika dalam sebuah acara, anda tidak diijinkan masuk, padahal sesungguhnya, anda layak masuk ke acara tersebut? Seorang teman pernah mengalami kekecewaan besar. Ia tidak diijinkan masuk ke dalam gereja saat misa tahbisan teman seangkatannya yang ditahbiskan lebih dahulu. Pasalnya, ia tidak membawa undangan dan panitia tidak mengijinkan masuk. Ia kecewa, karena seharusnya bisa berada di dalam.

Mazmur tanggapan hari ini menyerukan " Ya Tuhan jangan Kaulupakan terus menerus umat-Mu yang tertindas." Pemazmur menyampaikan ratapan kepada Allah. Peristiwa  pembuangan menjadi pukulan telak bangsa yang terpilih. Mereka sadar telah mengecewakan Allah mereka. Mereka sadar telah gagal telah melakukan kehendak-Nya. Mereka kini dianggap tidak layak sebagai bangsa pilihan. Mereka berharap Allah tidak melupakan mereka selamanya (Rat 2:18-19). Berbeda dengan Perwira yang diceritakan di dalam Injil hari ini (Mat 8:5-13), di tengah ketidaklayakkannya, Tuhan melihat iman yang sempurna, karunia kesembuhan pun diberikan kepada hamba perwira itu.

Lalu?
Antara Israel dan Perwira adalah antara mereka yang memiliki kelayakkan di hadapan Allah tetapi tidak mampu memanfaatkan dengan sempurna, dan mereka yang merasa tidak memiliki akses kelayakkan namun justru menampakkan iman yang sempurna. Di mana kita berada?

Salam.

Sabtu pekan biasa ke-12 (H) Sabtu, 27 Juni 2020. Rm Yakin

Sabtu pekan biasa ke-12 (H)
Sabtu, 27 Juni 2020.

Bacaan:
Rat 22:2.10-14.18-19;
Mzm 74:1-2.3-5a.5b-7.20-21;
Mat 8:5-17.

Renungan Sore:

Ipse infirmitates nostras accepit : et aegrotationes nostras portavit, “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.”

Setiap orang pasti pernah mengalami masalah, kesulitan bahkan keterpurukan. Namun tidak setiap orang mampu mengubah kegagalan menjadi awal kebangkitan. Situasi titik nadir bisa menjadi pengalaman berahmat jika kita dapat menyikapi secara bijaksana. Pada kesempatan itulah, kita dapat Kembali merefleksikan langkah hidup kita. Melihat kesalahan yang telah dilakukan, seraya mengevalusi pertemanan yang kita miliki. Sebagaimana dialami oleh bangsa Israel yang akhirnya mengalami kesadaran akan kekeliruannya selama ini. 

Dengan mengevalusi perjalanan hidup, kitapun akan memiliki pijakan untuk bangkit. Proses kebangkitan sendiri membutuhkan tekad dan kekuatan yang besar. Maka hendaknya tekad itu disumberkan, bukan hanya pada kekuatan diri sendiri, tetapi demi cinta kepada keluarga/orang-orang yang kita kasihi. “Saya berani bangkit dan berubah demi mereka yang saya cintai”. Dasar cinta inilah yang menjadi kekuatan kita untuk bangkit.

Cinta yang membangkitkan juga mampu merendahkan hati kita terhadap Tuhan. Kita semakin sadar akan kerapuhan dan ketidak-berdayaan kita terhadap pelbagai masalah: bencana, penyakit dan kuasa jahat yang mengincar hidup ini. Kerendahan hati yang membuat kita berani berseru dan memohon pertolongan Tuhan, karena kita percaya bahwa Dia adalah Tuhan yang rela memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita. Semoga kekuatan cinta memampukan kita untuk berani bangkit dari keterpurukan hidup dan menjadi pribadi yang semakin rendah hati.

Kontemplasi:
Bayangkanlah Allah yang mencintai kita dengan memberikan kita kesempatan untuk semakin bertumbuh dalam kasih-Nya?

Refleksi:
Bagaimana anda dapat menimba kekuatan cinta Allah yang memampukan anda bangkit dari kegagalan dan membuat anda semakin rendah hati terhadap penyertaan Allah dalam hidup ini?

Doa:
Ya Bapa, ajarlah kami untuk berani menghidupi Cinta-Mu dalam perjuangan hidup kami. Amin.

Perutusan:
Aku akan mendasarkan perjuangan hidupku pada kekuatan cinta.

– Rm. Antonius Yakin –

Jumat biasa pekan ke-12 (H) Jumat, 25 Juni 2020. Rm Yakin

Jumat biasa pekan ke-12 (H)
Jumat, 25 Juni 2020.

Bacaan:
2Raj 25:1-12;
Mzm 137:1-2.3.4-5.6;
Mat 8:1-4.

Renungan Sore:

Et extendens Jesus manum, tetigit eum, dicens : Volo. Mundare. Et confestim mundata est lepra ejus, “Yesus lalu mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata, ‘Aku mau, jadilah engkau tahir!’ Seketika itu juga tahirlah orang itu dari kustanya”.

“Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku”, inilah pernyataan orang kusta kepada Yesus. Dan dengan penuh belas kasih Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah si sakit dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir”. Yesus tergerak oleh belas kasih, sehingga mampu bergerak dan menyembuhkan orang kusta. 

Pada masa itu, kusta tidak sekedar dipandang sebagai penyakit tetapi merupakan kutuk, buah dari dosa. Seruan si kusta bukan sekedar permohonan untuk disembuhkan secara fisik, tetapi juga harapan agar dipulihkan statusnya di masyarakat. Karena dosa, status kita sebagai anak-anak Allah telah tercoreng, maka kitapun perlu berseru kepada Tuhan agar dibebaskan dari keberdosaan sehingga relasi kasih kita dipulihkan kembali. Jangan sampai kita hanya mengandalkan kekuatan sendiri, sehingga mengalami kebinasaan sebagaimana di alami oleh Zedekia.

Hendaklah dengan rendah hati kita memohonkan uluran kasih Allah yang akan memulihkan kita dari keberdosaan. Setelah mendapat pemulihan, maka kitapun sebagai anak Allah, dipanggil untuk berbelas kasih pada sesama kita. Dengan belas kasih itulah, kita dapat menyembuhkan dan menyelamatkan semakin banyak orang. Penyembuhan yang paling efektif dan mujarab adalah pengampunan. Melalui pengampunan kita bukan sekedar membebaskan orang dari dosa, tetapi juga menyembuhkan luka batin dengan melepaskannya dari segala beban penyesalan yang menghantui.

Kontemplasi:
Bayangkanlah Allah yang bukan saja mendengarkan seruan pertobatanmu, tetapi juga mengajak anda untuk menyembuhkan sesama melalui pengampunan yang anda berikan.

Refleksi:
Bagaimana anda ikut serta dalam menyembuhkan dunia melalui pengampunan yang anda berikan kepada sesama, dimulai dari keluarga anda? 

Doa:
Ya Bapa, ajarlah kami untuk berani mengampuni sebagaimana Engkau telah mengampuni dan memulihkan diri kami dari beban dosa. Amin.

Perutusan:
Aku akan berusaha menyembuhkan dengan memberikan pengampunan kepada mereka yang bersalah kepadaku.

– Rm. Antonius Yakin –

Kamis biasa pekan ke-12 (H) Kamis, 28 Juni 2018. Rm Yakin

Kamis biasa pekan ke-12 (H)
Kamis, 28 Juni 2018.

Bacaan:
2Raj 24:8-17;
Mzm 79:1-2.3-5.8.9;
Mat 7:21-29.

Renungan Sore:

_May we find within us the necessary antibodies of justice, charity and solidarity. We must not be afraid to live the alternative – the civilization of love _(Pope Francis).

Belum lama ini Paus Fransiskus menerbitkan sebuah buku: “Life after the pandemic”. Buku ini berisi delapan tulisan yang dibuat/disampaikan paus terkait masa pandemi. Tanpa ragu, Paus Fransiskus menawarkan jalan keluar dalam menghadapi krisis iman yang terjadi karena adanya pandemi ini. Solusi untuk menanggulangi virus covid-19 ini adalah melalui solidaritas dan doa. “Jangan takut”, tawaran alternatif ini merupakan peradaban cinta yang akan mengantar pada keselamatan.

Gerakan solidaritas adalah hal yang penting dalam melawan musuh yang tak terlihat. Dengan solidaritas, kita bahkan akan dimampukan melawan virus egoisme yang lebih mematikan dibanding covid-19. Doa menjadi api baru yang senantiasa menyemangati kita dalam berharap dan berjuang melawan pasukan yang tidak kasat mata. Untuk itulah, persiapan diri menjadi penting. Doa menjadi senjata dan perisai kita dalam melawan dosa dan egoisme. 

Kristus menjadi teladan nyata dalam cara kita berdoa; Kristus bukan saja berseru kepada Bapa, tetapi Dia juga menghidupi doa-Nya dengan tindakan nyata. Tidak hanya kasihan terhadap mereka yang kelaparan, tetapi mau memberi mereka makan; tidak hanya mendoakan yang cacad, tetapi juga memulihkan mereka dari kutuk yang melumpuhkan; terlebih tidak hanya mengeluh terhadap dosa kita, tetapi rela menebus dan menyelamatkan kita dengan wafat-Nya di salib.

Itulah sebabnya, kita diajak untuk berani berdoa secara benar sebagaimana Kristus. Melakukan/menghidupi apa yang didoakan dan mendoakan apa yang telah/sedang/akan dilakukan. Dengan berdoa, kita menunjukan kerendahan diri kita dihadapan Tuhan, sehingga tidak dipandang jahat sebagaimana raja Yoyakhin. Dalam doa, harapan kita akan terus dipupuk menjadi antibodi yang menghidupkan keadilan, amal dan solidaritas bagi dan bersama sesama dalam mewartakan kabar baik Kerajaan Allah.

Kontemplasi:
Bayangkanlah Allah yang bukan saja mendengar doa-doamu, tetapi juga mengajak anda untuk menghidupkan doa melalui tindakan nyata.

Refleksi:
Bagaimana anda berani melakukan apa yang anda doakan dan mendoakan apa yang anda lakukan? 

Doa:
Ya Bapa, ajarlah kami untuk berani menghidupi doa-doa kami dengan tindakan nyata; sehingga melalui doa, solidaritas kami diperkuat dan kabar keselamatan dapat semakin dirasakan oleh banyak orang. Amin.

Perutusan:
Aku akan melakukan apa yang kudoakan dan mendoakan apa yang kulakukan.

– Rm. Antonius Yakin –

Messages